Latest

Invasi Samsung Android

Samsung (三星) adalah bahasa Korea hanja yang berarti “tristar” atau “three stars”. Kata “three” merepresentasikan “besar, banyak, dan kuat”; “stars” berarti kekal.

image

Samsung berawal dari sebuah perusahaan investment trading dengan karyawan yang hanya berjumlah puluhan saja. Bisnis retail juga dicobanya dengan memproduksi mi instan.

Read the rest of this page »

Nonton Konser Lewat Ponsel

Penonton Sibuk Abadikan Konser Katy Perry

Kapan terakhir nonton konser? Saya terakhir nonton Jakarta Blues Festival di Istora Senayan, 17 Desember 2011 lalu. Apa saja yang dipersiapkan untuk nonton konser? Selain membawa uang, sepatu, rokok, air minum, ponsel, tidak sedikit penonton yang menenteng kamera SLR. Baiklah mungkin dengan kamera SLR kita bisa mendapatkan hasil gambar yang lebih keren dari kamera ponsel. Sekalian belajar motret bagi yang ingin makin jago.

Namun seringnya dalam sebuah konser, penonton malah disibukkan dengan kamera mereka. Kebanyakan memang menggunakan kamera ponsel untuk mengabadikan pertunjukkan. Ada yang merekam dengan fitur video, ada yang memotret dengan kamera ponsel lengkap dengan nyala lampu blitz-nya. Mereka berusaha untuk mengabadikan momentum saat si artis tampil. Tapi bukankah mereka malah kehilangan momentum itu karena sibuk dengan kameranya? Read the rest of this page »

Carissa Puteri Tidak Pakai Blackberry

Tanggal 28 Maret lalu saya baca iklan sok misterius di thebreakfree.com.

Saya sempat unggah gambar di atas ke facebook, dan menantang teman-teman jejaring untuk menebak itu iklan apa. Ada banyak dugaan mulai dari iklan Nokia, iklan deodorant, macam-macam. Sesuai tanggal yang dijanjikan iklan tersebut, maka hari ini saya buka lagi URL thebreakfree.com. Oh, tampilannya telah berubah, URL web diarahkan ke nokia.co.id/thebreakfree. Tampilannya menjadi, Read the rest of this page »

Arifinto, Obama, & Boehner, Jadi Bahan Guyonan Vicky Vette

Ini orang iseng banget. Entah akun asli atau palsu, pemiliknya betul Vicky Vette pemain film porno atau bukan, pastinya dia seorang yang update dengan berita internasional termasuk Indonesia.

Ternyata bukan cuma Arifinto yang jadi sasaran dia,

Read the rest of this page »

Film Satu Aktor, Satu Latar

Tadi sore saya nonton film Buried. Film yang dimainkan oleh Ryan Reynolds ini berdurasi kurang lebih 1,5 jam. Poster filmnya menarik perhatian meski cuma saya lihat dari ponsel. Gambar seseorang di dalam peti. Deskripsi Buried di website 21cineplex.com membuat saya ingin segera ke bioskop.

Terkubur hanya dengan satu ponsel dan korek api, komunikasi dengan dunia luar yang terbatas. Sinyal buruk, baterai menipis, dan pasokan oksigen berkurang menjadi musuh terburuk dalam terbatasnya waktu – panik, putus asa dan frustrasi, Paul hanya memiliki waktu 90 menit untuk menyelamatkan diri sebelum mimpi buruknya menjadi kenyataan.

Properti di film Buried sangat minim. Kurang lebih yang saya ingat adalah korek Zippo, pulpen, ponsel, tempat minum [alkohol] kecil, dan tentu saja peti.

Ketegangan tercipta sepanjang 1,5 jam selama film berlangsung. 90 menit di film hampir sama dengan waktu di jam tangan saya. Jadi perbandingan 1 menit film hampir sama dengan 1 menit di dunia nyata. Read the rest of this page »

Debu Vulkanik dan Gangguan Terbang Serius

Barusan tadi saya liat National Geographic tentang pesawat dari maskapai British Airways yang mengalami krisis terbang di atas pulau Jawa, tepatnya di sebelah tenggara Jakarta. Peristiwa ini terjadi 24 Juni 1982, sebulan setelah gunung Galunggung meletus pada 5 Mei 1982. Galunggung [saya ukur dengan Google Earth] berjarak 11.72 miles atau sekitar 18 km arah barat daya dari tengah kota Tasikmalaya. Letusan Galunggung yang bermula 5 Mei 1982 itu berlangsung 9 bulan hingga 8 Januari 1983.

Krisis terbang yang dialami British Airways dengan rute London-Auckland ini terjadi puncaknya saat empat mesinnya mati karena debu vulkanik yang masuk ke mesin pesawat. Awalnya pilot merasa terganggu dengan pandangan depan yang buram, lalu asap beraroma sulfur masuk kabin penumpang. Asap ini semula dianggap asap rokok. Salah satu penumpang berujar, “Turkish Cigarretes”. Namun penumpang yang melihat ke arah luar mendapati bahwa mesin tampak tidak seperti biasanya. Mesin mengeluarkan cahaya terang yang melewati kipas depan hingga ke bagian belakang. Read the rest of this page »

Merapi Milik Tuhan, Bukan Juru Kunci

Read the rest of this page »

Addie MS dan Flight of The Bumble Bee

Saya dan teman-teman kantor baru saja pulang dari acara syawalan yang digelar oleh perusahaan sekuritas, salah satu anak perusahaan bank BUMN. Addie MS dengan sebagian personil Twilite Orchestra tampil sebagai pengisi acara utama.

Di antara beberapa nomor yang dimainkan tadi, saya cukup terkesan dengan sebuah lagu berjudul, “Flight Of The Bumble Bee”. Nomor ini dimainkan oleh Twilite Orchestra dengan memperkenalkan seorang pemain piano muda –yang kebetulan saya lupa namanya.

“Flight Of The Bumble Bee” sesungguhnya adalah karya seorang komposer Rusia Nikolai Rimsky Korsakov yang diciptakan pada kisaran 1899–1900. Nomor ini merupakan interlude dari pertunjukkan operanya, “The Tale of Tsar Saltan”.

Nomor ini sungguh menarik karena ketika terdengar di telinga, memori saya terbawa ke film “Bee Movie”, komedi animasi karya Jerry Seinfeld yang saya tonton setahun lalu. Mendengar nomor ini saya terbayang lebah-lebah beterbangan dengan riang di pagi hari yang cerah dan hangat. Lebah-lebah yang terbang berkelompok di taman, berkeliling, berputar, riuh, menari, berpesta madu. Read the rest of this page »

Everyone Has a Little Dirty Laundry

Lagu-lagu ciptaan Ariel Peterpan kadang-kadang masih saya dengarkan. Begitu juga lagu Krisdayanti [KD] yang “Menghitung Hari”. Sulit untuk bohong dengan mengatakan bahwa lagu-lagu Ariel jelek. Lagu ciptaannya easy listening dan warnanya unik. Sulit pula bilang bahwa karakter dan teknik vokal KD biasa saja. KD menyanyi dengan baik sekali, sangat mengagumkan.

Bila kemudian hari ada hal-hal yang menjadi kekurangan mereka, saya tetap mengapresiasi kemampuan dan kelebihan mereka. Apa yang menjadi kekurangan pekerja seni dan selebritis –di mata fans– memang dapat menurunkan selera pasar karena yang mereka jual adalah karya seni yang dilengkapi dengan atribut citra diri, image.

“But everyone has a little dirty laundry”,

adalah salah satu pesan moral yang saya dapat dari serial TV “Desperate Housewife”. Pesan ini penting bagi sisi kejujuran kita. Sebelum kata “munafik” menjadi label baru atau nama tengah KD. Sebelum plesetan “Ariel Peterporn” menjadi ringan terucap berkat keangkuhan fans yang seakan lebih suci dari lantai masjid dan berakidah lebih baik dari Nabi.

Fans yang kecewa berbalik arah dengan membuat Facebook Group “Say No to Krisdayanti”. Menurut vivanews.com, Kamis, 22 Juli 2010, seorang ibu mengungkapkan kekesalannya di fan page setelah melihat adegan ciuman KD dan Raul di TV, “Tolong, stop pornoaksi di depan media. Kami punya anak-anak yang menontonmu di media.”

Pertanyaannya, apakah ia juga mengecam stop pornoaksi untuk tayangan program yang lain? Atau hanya untuk KD yang telah mengecewakan dirinya sebagai fans..?

Munculnya Fan Page atau Facebook Group “Say No to Krisdayanti” adalah representasi nyata bahwa bangsa ini telah mengabdikan dirinya untuk mengurusi persoalan-persoalan pribadi orang lain. Dan enggan mengakui bahwa, “everyone has a little dirty laundry”.

Untuk itu saya salut pada Eleanor Roosevelt atas kalimatnya yang begitu bagus,

“Great mind discuss ideas, average minds dicuss events, small minds discuss people.”

Maaf Kartini, Saya Tak Pernah Ikut Selebrasi 21 April

Saya hidup di masa sekarang di mana sosok Kartini dan kisahnya kala itu sulit saya bandingkan dengan masa kini. Tentu saja, menurut cerita, Kartini adalah tokoh yang melawan kerasnya rezim pembatasan hak wanita kala itu. Saya tidak bermaksud menyangkal karena tidak hidup di masa itu. Tapi saya juga tidak dapat menjadikan Kartini sebagai sosok yang pas untuk dijadikan idola, lebih-lebih ketika saya ‘harus’ mengikuti selebrasi bertajuk “Independensi Perempuan Indonesia” tiap tanggal 21 April. Saya mengidolakan Ibu saya, lebih kagum pada Ibu dari pada sosok Kartini yang sulit saya adakan imajinya di benak saya.

Lagipula Indonesia punya banyak tokoh perempuan yang hebat. Pia Alisjahbana misalnya, bisa kita jadikan ikon jurnalis perempuan Indonesia oleh karena prestasinya yang telah mencerahkan wacana perempuan Indonesia dengan menerbitkan majalah wanita Femina dan Gadis sejak tahun 1973. Tak cuma Kartini. Read the rest of this page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers