Orang-orang Muda Tentang Ahmadiyah


 

Sejak dulu Ahmadiyah hidup tenang dan tidak terusik kehidupan beragamanya. Lalu kenapa sekarang mereka terusik? Apakah Ahmadiyah berbeda antara dulu dan sekarang? Saya kira tidak. Kalau sama, lantas apa yang membuat mereka menjadi begitu terancam eksistensinya oleh orang-orang muda Islam yang teramat bersemangat? Kita patut bertanya, Ahmadiyah yang berubah atau sikap hidup dan level kemanusiaan orang-orang muda Islam yang mengalami degradasi? Tidak mengertikah mereka tentang nilai-nilai humanisme universal?

Saya pikir orang-orang muda yang merusak tempat ibadah, membakar rumah-rumah pengikut Ahmadiyah, dan main pukul itu sama sekali tidak mencerminkan Islam mainstream! Mereka itu hanya berbeda tipis dengan teroris. Mereka menebar teror pada saudara-saudaraku Ahmadiyah. Bedanya, mereka tidak pakai bahan eksplosif sejenis mercon besar, C4 atau TNT.

Di beberapa maling-list (milis) orang-orang muda Islam saling berlomba menyebar artikel tentang Ahmadiyah. Ada yang pro dan kontra tentang FPI, pro-kontra tentang Ahmadiyah, pro-kontra tentang aliran fundamental dan moderat.

Mereka hanya ingin menunjukkan dirinya masuk dalam kategori atau kelompok tertentu dengan menyebar artikel yang menurut mereka sesuai dengan cara berpikirnya. Mereka hanya mampu menyodorkan wacana dari tokoh tertentu, dari ulama ini, ulama itu, sedang dirinya sendiri tidak punya dan tidak berani menuliskan sesuatu yang menunjukkan kemandirian sikap dan pendapatnya tentang Ahmadiyah.

Kekhawatiran orang-orang muda Islam saat ini tentang Ahmadiyah yaitu jika keyakinan dan ajaran Ahmadiyah terus berkembang dan semakin besar. Itu bukan? Kenapa khawatir tentang Ahmadiyah yang rekam jejaknya tidak pernah menunjukkan singgungan, perselisihan, dan gangguan pada umat agama yang lain termasuk Islam mainstream. Saudara-saudara kita Ahmadiyah beraktifitas, bekerja, berwirausaha, melaksanakan sholat, berzakat, mendirikan SMU PIRI di Yogyakarta. Masjid yang mereka dirikan juga menjadi sarana ibadah umat Islam yang lain.

Kenapa kita begitu menaruh curiga bahwa pengakuan mereka tentang Quran dan Muhammad adalah ungkapan di bibir saja. Toh kalau mereka tidak mengakui Quran dan Muhammad –karena meyakini dan berpedoman pada diktat lain dan nabi terakhir yang lain– mereka tetap warga Indonesia, bagian dari bangsa ini. Kalau penderita HIV/Aids yang jelas-jelas bisa menular saja tidak kita kucilkan, mengapa kita tidak adil pada saudara-saudara Ahmadiyah. Apakah mereka ‘penyakit’ menular yang ‘membunuh’ perlahan-lahan.

Saya sempat berpikir sebaliknya. Kalau saya tinggal di suatu daerah di mana status agama, suku, ras, atau ideologi saya adalah bagian yang minor, sementara bagian mayoritasnya tidak memberi saya ruang untuk hidup dengan rasa tenang dan aman, tentu saya akan memilih eksodus, pergi ke daerah lain yang menerima kehadiran saya dengan baik.

Mungkin saya akan kecewa dan sakit hati jika menjadi kaum minoritas dan karena alasan itu saya diusir dari tempat tinggal saya. Mayoritas memang lebih sering dan mudah menang, menjadi superior bagi minoritas.

Saya was-was kalau saudara saya yang Ahmadiyah tidak bisa hidup tenang dan nyaman di negeri sendiri karena kesewenang-wenangan kaum mayoritas. Saya jadi was-was kalau mayoritas Islam merasa was-was juga pada perkembangan dan penyebaran keyakinan Ahmadiyah. Akhirnya semuanya jadi was-was. Kita mau menjadi bangsa yang curiga dan was-was. Tapi kenapa baru sekarang was-was, sejak dulu Ahmadiyah hidup tenang dan tidak ada yang was-was pada Ahmadiyah. Ahmadiyah sendiri juga tidak was-was pada siapapun. Apakah orang-orang muda Islam mainstream sekarang lebih pandai dan mengerti soal agama, lebih berani menyatakan kebenaran, atau sedang ingin menunjukkan tingginya keimanan mereka lewat klaim-klaim tertentu.

Jalan menuju iman bukanlah jalan instan, lebih-lebih melalui klaim-klaim dangkal seperti itu. Seharusnya kita memiliki nilai-nilai humanisme universal, yaitu menghargai keragaman kultur, perbedaan ideologi, perbedaan pendapat, sebagai wujud kedermawanan sikap kita pada sesama manusia juga sebagai wujud tafakur dan syukur kita atas keberagaman yang diciptakan Tuhan sang Maha Kaya. Dan Islam tidak menolak nilai-nilai humanisme. Muhammad mengajarkan nilai-nilai humanisme melalui hal-hal konkret.

Silahkan baca artikel terkait:

Goenawan Mohamad: Indonesia

Amien Rais: Ahmadiyah Punya Hak Hidup

Mustofa Bisri: Kekerasan Itu

Wahid Institute: Kesaksian Tragedi Monas 1 Juni 2008

Salahudin Wahid: Pembatasan Kebebasan Beragama

ICRP: Kebebasan Beragama &Melaksanakan Agama Kepercayaan Perspektif HAM

Advertisements

20 responses

  1. masjhud

    Saya pikir orang-orang muda yang merusak tempat ibadah, membakar rumah-rumah pengikut Ahmadiyah, dan main pukul itu sama sekali tidak mencerminkan Islam mainstream! Mereka itu hanya berbeda tipis dengan teroris.

    Saya pikir mereka memang (dibuat) begitu, untuk menunjukkan Islam itu terrorist. Dan kita tahu siapa yang maunya begitu.

    “Insiden Monas Rekayasa Amerika” sangat mungkin benar, cuma siapa yang diongkosin itu soalnya, butuh logika.

    Refanidea: Mending ongkosin bensin saya aja, ya nggak mas..? Masa skrg ceban cuma dapet 1,6 liter.. Wah nggak mencerminkan harga mainstream tuh.. [Lah kok mainstream?!]

    Like

    Thursday, June 12 , 2008 at 6:28 am

  2. Orang Muda Islam

    Ga ada noda ga belajar (iklanbgt.com)…. Hehehe….

    Dari kejadian insiden monas kemaren, saya menjadi tertarik untuk mengetahui seluk beluk ahmadiyah dan mencari berbagai macam referensi. Dan saya mendapatkan kesimpulan bahwa ajaran ahmadiyah ini tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Bukankah Al-quran dan hadist itu sebagai pegangan umat muslim. Jadi klo tidak sesusai apakah mereka juga muslim ? Salahkah saya jika menentang eksistensi ahmadiyah ? Atau anda bisa menjelaskan bahwa ahmadiyah sesuai dengan Al-quran dan hadist ?

    Solusi terbaik menurut saya, Ahamadiyah kembali mengikuti Al-Quran dan hadist atau membuat agama sendiri ? Jangan dicampur adukkan seperti sekarang ini.

    Islam juga humanisme mas. Selama ini kita bisa hidup harmonis dan berdampingan dengan non muslim. Yg saya lihat ahamadiyah ini mencoba memasukkan nabi dan kitab suci baru ke dalam Islam. Nah hal itulah yang tidak bisa ditolerir sehingga terjadi konflik.

    Bolehkan saya mengambil kesimpulan jika ahmadiyah ini Islam, berarti muslim di Indonesia juga harus mengakui nabi dan kitab baru tersebut ? Setujukah anda ?

    Nb : Saya sangat menyesalkan kekerasan yg terjadi di monas.

    Refanidea: Mas “Orang Muda Islam”, saya mau cerita sedikit, Ayah saya dulu aktif di HMI Badko Jateng era 1965-1970-an, di mana HMI belum terpecah menjadi DIPO&MPO seperti sekarang. Beliau dulu punya banyak teman2 dari Qadiyan maupun Lahore –yang juga anggota HMI. Mereka semua tidak ada masalah dalam menjalankan kehidupan berorganisasi dan kehidupan beragama masing2. Tingkat toleransi dan kesediaan untuk menghargai pluralisme di antara mereka tetap terjaga
    dengan baik dan jarang atau hampir tidak pernah menimbulkan konflik. Hal ini yang menjadi inspirasi dan contoh konkret bagi saya.

    Mas “Orang Muda Islam” yang berusaha misterius, Ada satu pertanyaan saya untuk anda, pertanyaan yg sangat mendasar. Kalau anda ditakdirkan lahir dari orang tua yang Ahmadiyah, kira2 anda akan jadi Ahmadiyah atau bagaimana..? Dan bagaimana jika anda lahir sebagai Ahmadiyah lalu ‘dihukum’ oleh bangsa ini..? Anda dihukum karena keyakinan anda yg tidak bisa anda tolak sejak lahir. Bagaimana..?

    Like

    Friday, June 13 , 2008 at 3:52 am

  3. Satrio Arismunandar

    Orang muda Indonesia itu macam-macam, Mas… Ada yang tenggelam dalam narkoba, ada yang jadi pengemis, ada yang enak-enak bisa jalan-jalan ke Singapura tiap akhir pekan dengan duit orang tua…

    Sebagian besar (jutaan) mungkin malah tak perduli dengan isu Ahmadiyah. Jutaan anak muda Indonesia pusing dan frustrasi, karena orang tuanya miskin, tak punya uang buat bayar sekolah, buat berobat ke dokter, buat makan sehari-hari, dsb….

    Menjadi anggota suatu Ormas atau organisasi apapun namanya (entah itu namanya FPI, Banser NU, Pemuda Pancasila, Garda Bangsa, dsb..) itu mungkin sedikit memberi rasa identitas, rasa punya arti, punya eksistensi… Walaupun mungkin eksistensi itu (di mata kita) “semu”.

    Nah, justru di sini tantangannya…. Gimana caranya agar kita bisa menjadikan jutaan kaum muda itu sebagai dokter, insinyur, wiraswastawan, dsb, jadi mereka sibuk berkarya (nggak sempat demo!)

    Satrio
    (mantan pemuda yang sekarang jadi buruh di industri media)

    Refanidea: Menarik pendapat anda mas Satrio… ya memang orang2 muda skrg krisis identitas.. Pola pikir, tingkat pendidikan, pekerjaan, komunitas, fashion, musik, seni, budaya, dijadikan bagian dari statement identitas seseorang. Tapi sebenarnya statement identitas itu ter-manifestasi secara alamiah dalam keseharian kita. Apakah seseorang itu begini, begitu, sebenarnya orang lain pula yang bisa menilai secara obyektif. Terkadang kita [saya sendiri] lupa untuk koreksi diri, dan melakukan kontemplasi, akibatnya buruk rupa cermin dibelah.

    kalau gitu buka lowongan di Transcorp lagi dong mas, supaya bisa menjadikan jutaan kaum muda jadi dokter, insinyur, wiraswastawan, dsb, sekalian supaya masuk rekor MURI lagi tesnya. Loh, Transcorp itu biro kerja atau apa? Hehehe…

    Like

    Saturday, June 14 , 2008 at 4:54 am

  4. Lina Dahlan

    Dear Mas Ifan,
    Ini pribadi pendapat saya.

    Saya tidak mengerti pemikiran anak-anak muda Islam sekarang yang mengatakan bahwa Ahmadiyah sesat dan tidak berhak hidup di Indonesia. Entah apa yang tidak berhak hidup, ajarannnya atau orangnya. Sejak dulu sekali sebelum orang-orang muda Islam ini lahir, Ahmadiyah telah ada di Indonesia. Mungkin usia Ahmadiyah sama dengan kakek-nenek mereka. Apakah orang-orang muda Islam benar-benar mengerti tentang Ahmadiyah atau hanya ikut-ikutan berpendapat begitu karena khawatir bila tidak menyatakan sesat, maka akan dianggap bukan termasuk aliran Islam mainstream? Apa sih itu Islam mainstream?

    Lina:
    Setelah membaca beberapa buku karya Mirza Ghulam Ahmad, termasuk Tazkirah (kumpulan wahyu Tuhan kepada MGA) dan beberapa tanggapan atasnya dan membaca sejarah berdirinya Ahamdiyah sebagai suatu gerakan di India, saya berpendapat ajaran Ahmadiyah (Qadian) adalah sesat. Namun saya termasuk orang yang tidak menyetujui kekerasan meskipun itu terhadap orang yang saya anggap sesat ajarannya. Apalagi dalam kehidupan bernegara dimana kita harus mematuhi hukum yang ada. Kalaupun Ahmadiers mau menganggap saya sesatpun welcome saja buat saya. Itu sudah menjadi hal biasa dan wajar.
    *****

    Saya pikir orang-orang muda Islam di Indonesia hanya latah. Seharusnya> mereka berpikir lebih dalam, mencari tahu lebih banyak, baru berpendapat. Sejak dulu Ahmadiyah hidup tenang dan tidak terusik kehidupan beragamanya. Lalu kenapa sekarang mereka terusik? Apakah Ahmadiyah
    berbeda antara dulu dan sekarang? Saya kira tidak. Kalau sama, lantas apa yang membuat mereka menjadi begitu terancam eksistensinya oleh> orang-orang muda Islam yang teramat bersemangat?
    Kita patut bertanya, Ahmadiyah yang berubah atau sikap hidup dan level kemanusiaan> orang-orang muda Islam yang mengalami degradasi? Tidak mengertikah> mereka tentang nilai-nilai humanisme universal?

    Lina:
    Dahulu, di jaman orba, rezim pak Harto tidak memberi angin sedikitpun kepada gerakan2 spt Ahmadiyah [apalagi FPI] untuk tumbuh. Meskipun belio tidak memberangus. Hanya dibuat impoten. Pak Jendral
    itu berpendapat,”elo buat kacau di negara gw, gw berangus!” Sekarang ini, orang baru melek mata akan demokrasi. Pemerintahannya tidak bersikap tegas atas perundangan dan hukum yang ada. Situasi
    spt ini dipergunakan dgn baik oleh orang2 termasuk oleh Pemerintah sendiri.
    *******

    Saya pikir orang-orang muda yang merusak tempat ibadah, membakar rumah-rumah pengikut Ahmadiyah, dan main pukul itu sama sekali tidak mencerminkan Islam mainstream! Mereka itu hanya berbeda tipis dengan teroris. Mereka menebar teror pada saudara-saudaraku Ahmadiyah. Bedanya, mereka tidak pakai bahan eksplosif sejenis mercon besar, C4 atau TNT. Di beberapa maling-list (milis) orang-orang muda Islam saling berlomba menyebar artikel tentang Ahmadiyah. Ada yang pro dan kontra tentang FPI, pro-kontra tentang Ahmadiyah, pro-kontra tentang aliran fundamental dan moderat. Konyol!

    Lina:
    Saya tidak menganggap ini suatu yang konyol karena saya berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari keduanya. Karena ini juga merupakan fakta yang ada yang merupakan kemajuan jaman pada bidang
    media. Bergantung bagaimana kita membacanya. Hanya saja saya berharap hal2 ini tidak menguras energi terlalu banyak sehingga anak muda tdk punya energi untuk berkarya yang positif lagi. Hmm ini
    mungkin yang mas Ifan masuk dgn konyol ya?…:-)

    Mereka hanya ingin menunjukkan dirinya masuk dalam kategori atau kelompok tertentu dengan menyebar artikel yang menurut mereka sesuai dengan cara berpikirnya. Mereka hanya mampu menyodorkan wacana dari tokoh tertentu, dari ulama ini, ulama itu, sedang dirinya sendiri tidak punya dan tidak berani menuliskan sesuatu yang menunjukkan kemandirian sikap dan pendapatnya tentang
    Ahmadiyah.

    Lina:
    Pada akhirnya anak muda anak muda ini akan mempunyai pendapat sendiri dari pengalamannya masing-masing, bukan? Biarkan saja. Namun yang perlu dicegah adalah tindakan kekerasan dan pengurasan energi utk hal2 yg tdk perlu.
    ******

    Kekhawatiran orang-orang muda Islam saat ini tentang Ahmadiyah yaitu jika keyakinan dan ajaran Ahmadiyah terus berkembang dan semakin besar. Itu bukan? Kenapa khawatir tentang Ahmadiyah yang rekam jejaknya tidak pernah menunjukkan singgungan, perselisihan, dan gangguan pada umat agama yang lain termasuk Islam mainstream. Saudara-saudara kita Ahmadiyah beraktifitas, bekerja, berwirausaha, melaksanakan sholat, berzakat, mendirikan SMU PIRI di Yogyakarta. Masjid yang mereka dirikan juga menjadi sarana ibadah umat Islam yang lain.

    Lina:
    Memang ada ketakutan seperti itu, nampaknya. Sebetulnya memang tak perlu. Namun, saya pernah baca di Republika bahwa kaun ahmadi ini melakukan ‘misionaris’ yang tidak elegan alias dengan “pemaksaan terselubung” dalam menarik awam agar menjadi ahmadiers. Ini yang perlu diwaspadai krn akan memicu permasalahan dalam situasi rawan spt ini.

    Kenapa kita begitu menaruh curiga bahwa pengakuan mereka tentang Quran dan Muhammad adalah ungkapan di bibir saja. Toh kalau mereka tidak mengakui Quran dan Muhammad –karena meyakini dan berpedoman pada diktat lain dan nabi terakhir yang lain– mereka tetap warga Indonesia, bagian dari bangsa ini. Kalau penderita HIV/Aids yang jelas-jelas bisa menular saja tidak kita kucilkan, mengapa kita tidak adil pada saudara-saudara Ahmadiyah. Apakah mereka `penyakit’ menular yang `membunuh’ perlahan-lahan.

    Lina:
    Kalau mereka curiga, itu karena mereka punya pengalaman sendiri. Yang terlihat oleh mata kita adalah pengalaman pemimpin ahmadiyah dengan Bakorpakem. Awalnya menyetujui, namun sesudah ditandatangani kesepakatan Ahmadiyah melanggar kesepakatan itu. Apalagi yang tidak dibuat kesepakatan. Mereka bisa bicara apa saja, dan dibelakangnya mereka bisa melakukan yang berbeda toh? Terlepas dari Ahmadiyah (karena saya tidak menyamakan ahmadiyah dan aids), Betulkah penderita HIV/Aids tidak dikucilkan?

    >> Refanidea: Kan sebaiknya memang nggak dikucilkan, mbak Lina. Itu yang sedang diperjuangkan oleh temen2 aktivis semacam Baby Jim Aditya.

    Saya sempat berpikir sebaliknya. Kalau saya tinggal di suatu daerah dimana status agama, suku, ras, atau ideologi saya adalah bagian yang minor, sementara bagian mayoritasnya tidak memberi saya ruang untuk hidup dengan rasa tenang dan aman, tentu saya akan memilih eksodus, pergi ke daerah lain yang menerima kehadiran saya dengan baik.

    Lina:
    Itu hak pribadi setiap orang dan itu berarti negara tidak bisa menjamin rakyatnya merasa aman dan tenteram.
    ******

    Mungkin saya kecewa dan sakit hati karena menjadi kaum minoritas dan> karena alasan itu saya diusir dari tempat tinggal saya yang dulu. Mayoritas memang lebih sering dan mudah menang, menjadi superior bagi minoritas.

    Lina:
    Kalo saol mayo dan mino, idealnya, Mayoritas (yang kuat) itu harus bisa melindungi minoritas (yang lemah). Minoritas harus tau diri.

    *****

    Saya was-was kalau saudara saya yang Ahmadiyah tidak bisa hidup tenang dan nyaman di negeri sendiri karena kesewenang-wenangan kaum mayoritas. Saya jadi was-was kalau mayoritas Islam merasa was-was juga pada perkembangan dan penyebaran keyakinan Ahmadiyah. Akhirnya semuanya jadi was-was. Kita mau menjadi bangsa yang curiga dan was-was. Tapi kenapa baru sekarang was-was, sejak dulu Ahmadiyah hidup tenang dan tidak ada yang was-was pada Ahmadiyah. Ahmadiyah
    sendiri juga tidak was-was pada siapapun. Apakah orang-orang muda Islam mainstream sekarang lebih pandai dan mengerti soal agama, lebih berani menyatakan kebenaran, atau sedang ingin menunjukkan
    tingginya keimanan mereka lewat klaim-klaim tertentu.

    Lina:
    Saya juga gak tau apa yang membuat mainstream sekarang meradang lagi soal Ahmadiyah. Apakah betul pemerintah memulainya untuk menutupi masalah BBM dan Korupsi2 lainnya? Ato memang pemerintah memerlukan kisah2 semacam ini karena menjelang pemilu sehingga perlu ada pembetukan image?. Tapi dua stream yang bertentangan memang diperlukan…:-)). Gossipnya akan ada lagi “sinetron” yang akan di buat yang bertemakan soal penggusuran rumah, seperti yang terjadi
    pada perumahan2 di Meruya. Gak tau daerah mana yang akan dipilih…:-))

    Jalan menuju iman bukanlah jalan instan, lebih-lebih melalui klaim-klaim dangkal seperti itu. Seharusnya kita memiliki nilai-nilai humanisme universal, yaitu menghargai keragaman kultur, perbedaan
    ideologi, perbedaan pendapat, sebagai wujud kedermawanan sikap kita pada sesama manusia juga sebagai wujud tafakur dan syukur kita atas keberagaman yang diciptakan Tuhan sang Maha Kaya. Dan Islam tidak menolak nilai-nilai humanisme. Muhammad mengajarkan nilai-nilai humanisme melalui hal-hal konkret. Tapi mengapa pengikut Muhammad ini jadi kehilangan nilai-nilai itu sambil berteriak bahwa
    Ahmadiyah tidak layak eksis. Mungkin kalau Muhammad masih hidup saat ini, beliau akan marah melihat sikap yang tidak toleran ini. Beliau juga malu karena umat Islam Indonesia dipenuhi rasa curiga,
    was-was, dan melarang kebebasan berkeyakinan. Apakah Muhammad mengajarkan cara pandang hidup yang demikian wahai pengikut Muhammad?

    Lina:
    Masalahnya (yang sengaja dibuat, mungkin?), Kasus Ahmadiyah ini bagi sebagian orang bukan sekedar PERBEDAAN PENDAPAT atau OPINI, tapi sudah MENODAI.Perbedaan pendapat dan opini itu tidak berakibat merobah identitas/akidah agama, namun kalau menodai itu sudah merobah identitas, sehingga Ahmadiyah tidak berhak memakai identitas Islam lagi krn sudah merubah.

    Akhir kata, yang menjadi permasalahan adalah Ahmadiyah Qadian. Tidak pernah bermasalah dengan Ahmadiyah Lahore. Saya pribadi mengambil sikap bila Ahmadiyah mengucapkan syahadatain sama seperti Islam lainnya, maka mereka dalah Islam juga. Bila dalam hati, mereka menganggap bahwa dalam syahadatain mereka itu adalah MGA, itu urusan mereka dengan Allah SWT. Biarlah Allah SWT yang menghukum mereka karena ini sudah urusan hati, dimana manusia tidak bisa menilainya.
    Seperti Kusplus bilang,”Hati orang siapa tauu; mungkin dia baik hanya dimuka, dibelakang dia menipu”

    Sekali lagi, saya juga mengecam kekerasan dalam hal ini. Dan saya juga pengagum Nasrudin Hoja. Saya copas kan kisah beliau yang berhubungan dengan wacana yang sedang terjadi di negara ini;

    PERUSUH RAKYAT

    Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
    “Menjauhlah engkau, hai mullah!” teriak pengawal. [Nasrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]
    “Mengapa ?” tanya Nasrudin.
    “Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !”
    “Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?”
    “Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !”
    “Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?” kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.

    Wassalam,

    Like

    Saturday, June 14 , 2008 at 4:58 am

  5. Wah.. mbak Lina harusnya bikin postingan sendiri tuh hehehe… Piss…

    Like

    Saturday, June 14 , 2008 at 2:13 pm

  6. agoezi

    Assalamu’alaykum…
    Maaph…mo nanggepin tapi mungkin tidak sesuai dengan penulis artikel.
    Mungkin kalau Muhammad masih hidup saat ini, beliau akan marah melihat sikap yang tidak toleran ini. Beliau juga malu karena umat Islam Indonesia dipenuhi rasa curiga, was-was, dan melarang kebebasan berkeyakinan. Apakah Muhammad mengajarkan cara pandang hidup yang demikian wahai pengikut Muhammad?
    Sebelumnya saya mau tanya, anda seorang muslim bukan ?(maaf jika menyinggung)
    Kalau anda seorang muslim seharusnya tahu bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepada kita untuk mengikuti Al-qur’an dan As-Sunnah.
    Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah telah disebutkan jelas bahwa Al-Qur’an adalah kibat suci kaum muslimin, sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Lalu telah disebutkan pula dalam berbagai dalil bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam adalah akhirul anbiya.
    Anda menanyakan “Apakah Muhammad mengajarkan cara pandang hidup yang demikian wahai pengikut Muhammad?”
    Jawaban saya, Rasulullah mengajarkan kita untuk mengikuti jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi, jika ada yang mengaku sebagai umat Islam tapi kitab sucinya bukan Al-qur’an dan mereka mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihin wa salam, saya (tidak hanya saya, para ‘ulama juga)katakan mereka sesat,termasuk ahmadiyyah.
    Namun, saya juga menyesalkan tindakan umat Islam yang anarkis. Mereka yang selalu mengatakan jihad tapi berdemo, rusuh, anarkis, dll. Apakah mereka merasa mereka adalah orang yang paling baik? Atau mereka hanya ingin “tampil” di depan umum memperlihatkan ke-“islaman” mereka ?Berdemo, rusuh, anarkis tidak akan menyelesaikan masalah. Seharusnya kita itu mencari ‘ilmu terlebih dahulu. Insya allah jika kita mengenal Islam yang sebenarnya pasti kita tidak akan melakukan tindakan seperti itu.
    Dan untuk masalah mayoritas, tidaklah pasti suatu mayoritas itu benar. Namun tidak pasti pula yang minoritas seperti Ahmadiyyah itu benar juga. Yang benar adalah yang berjalan di atas tuntunan Al-qUr’an dan As-Sunnah. Entah itu mayoritas maupun Minoritas. Jika mayoritas berada di atas kedua hal tersebut maka mereka berada pada kebenaran. Sebaliknya juga begitu,jika suatu minoritas berjalan di atas kedua hal tersebut maka merekalah yang benar.
    Kepada penulis, bukan saya bermaksud merendahkan tapi apakah anda tahu Islam yang sebenarnya ? Yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para shahabat ? Jika ya, seharusnya anda tahu bahwa Ahmadiyyah dan temasuk juga aliran sesat lainnya adalah sesat. Dan setiap yang sesat kembalinya adalah ke neraka.
    Mungkin sekian dulu. Maaf bila ada kata-kata saya yang tidak mengenakkan. Tapi jika anda ingin tahu hal yang benar, belajarlah. Belajar mengenai Islam,Al-Qur’an dan As-Sunnah. Insya Allah anda akan mengetahui kebenaran. Saya pun masih belajar menuju jalan kebenaran, insya allah.
    Akhir kata
    Wassalamu’alaykum…

    Refanidea:
    Mas Agoezi, dulu ketika Injil hadir di muka bumi melalui Isa, ada sebagian yang meyakini&melakukan ajarannya, tapi ada juga yang mengingkari dan tetap meyakini kitab sebelumnya –Taurat dan atau Zabur. Dalam perspektif ini saya menyebut Injil sebagai new form [kitab bentuk baru]. Ketika Al Quran hadir melalui Muhammad, yang terjadi juga sama. Sebagian meyakini&melakukan ajarannya, tapi ada juga yang mengingkari dan tetap meyakini Injil. Dalam hal ini Quran adalah new form of Bible [kitab baru, penyempurna, dan terakhir].

    Menurut Kristen, Islam itu keliru, begitu juga sebaliknya karena berbeda penafsiran mengenai Isa dan Muhammad.

    Lalu muncullah Tazkirah melalui Mirza Ghulam Ahmad, dan pengikutnya bernama Ahmadiyah –Qadiyan&Lahore– yang masing2 juga berbeda dalam menafsirkan dan memposisikan Tazkirah&MGA.

    Kristen juga terbagi dua, Katolik dan Protestan, karena berbeda cara dalam menafsirkan dan meyakininya.

    Persoalannya Islam enggan dianggap terbagi dua: Islam dan Islam Ahmadiyah. Tidak ada istilah ‘Islam Ahmadiyah’ bagi Islam mainstream. Begitu bukan..?

    Tetangga saya Katolik keturunan Tionghoa, Kristen Jawa, dan saya pernah punya teman pondokan beragama Hindu dari Bali. Kami hidup rukun dan damai. Tapi saya belum pernah punya kesempatan berkawan atau bertetangga dengan seorang Ahmadiyah.

    Agoezi: Kepada penulis, bukan saya bermaksud merendahkan tapi apakah anda tahu Islam yang sebenarnya ? Yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para shahabat ? Jika ya, seharusnya anda tahu bahwa Ahmadiyyah dan temasuk juga aliran sesat lainnya adalah sesat. Dan setiap yang sesat kembalinya adalah ke neraka.

    Refanidea:Baiklah bila anda mengatakan Ahmadiyah itu sesat, tapi saya katakan bahwa Ahmadiyah itu berbeda penafsiran. Mungkin bagi anda, non muslim itu kafir, tapi bagi saya mereka berbeda keyakinan. Lalu kita ini berbeda apa..? Kita berbeda pendapat mas.. Boleh kaan..
    Mas Agoezi, soal masuk neraka atau surga, buat saya itu urusan Tuhan. Kalau boleh, saya pengen suatu hari nanti bisa ketemu juga dengan customer saya yang beragama Katolik di surga. Itu kalau Tuhan mengijinkan.. Ceritanya gini mas..

    Saya pernah punya customer orang Manado beragama Katolik yang penghasilannya dalam sebulan bisa untuk membeli tunai dua buah mobil. Sore itu seusai nonton di 21 di gedung yang sama dengan tempat saya nongkrong, dia memilih pulang dulu ke rumah–menunda ketemu saya dan temen2– demi membawa tiga bungkus Mc’D karena seorang tukang kebun dan seorang satpam di rumahnya belum punya hidangan untuk buka puasa, sementara PRT-nya sedang pulang kampung. Segera setelah itu dia kembali menemui saya. Melalui kejadian ini saya menyaksikan betapa keimanan seorang Katolik itu sangat menyentuh hati saya. Kalau dia bukan seorang yang beriman, mana mungkin dia peduli pada sesama makhluk Tuhan.
    Nanti kalau saya punya kesempatan kenal dengan seorang kawan Ahmadiyah, akan saya jabat tangannya. Mungkin indah sekali kalau kami bisa menyantap buka puasa bersama di sebuah sore yang hangat sambil menatap senja Ramadhan yang indah.

    Like

    Sunday, June 15 , 2008 at 9:49 pm

  7. Kekhawatiran orang-orang muda Islam saat ini tentang Ahmadiyah yaitu jika keyakinan dan ajaran Ahmadiyah terus berkembang dan semakin besar. Itu bukan?

    Yang lebih tepat adalah jika ajaran Ahmadiyah semakin besar maka Islam “mainstream” itu semakin kerdil. 🙂

    Agama itu identifikasi. Jadi kalau ada yang “merusak” identifikasi itu dengan memberikan alternatif penafsiran dari sesuatu yang kita terima selama ini, maka yang sering muncul adalah : “agama SAYA dirusak”.

    Agama dan saya akhirnya bukan sekedar identifikasi diri, tapi kepemilikan diri. Agama SAYA adalah Agama PUNYA SAYA. 😆

    Refanidea: Jadi dalam topik ini ada yang dirusak nggak mas goldfriend..? hehe.. 🙂

    Like

    Sunday, June 15 , 2008 at 9:58 pm

  8. kang semar

    ok, saya kembali berkomentar…

    setelah membaca koment dari rekan rekan sekalian, saya merasa terharu tersinggung dan banyak hal yang mencuat kembali untuk kedua kali nya saya membaca ini….

    inti dari islam adalah
    1. percaya…kepada Tuhan YME, (Allah SWT), rasul nya ( Nabi Muhammad SAW), kitabnya (Al Quran), Malaikat-malaikatnya, Qada-Qadar, dan hari akhir( Kiamat kubra).
    2. patuh…kepada semua yang sudah di syariatkan kepada kita melalui Al Quran dan As Sunnah

    ketika semua itu terlaksana, toleransi beragama akan terjalin…

    seperti yang dilakukan oleh salah satu sahabat rasul yang memperbolehkan kaum nasrani membangun sebuah gereja di dalam kompleks Masjidil Aqsa.

    tapi penyimpangan (penodaan) agama merupakan sebuah hal yang sangat sulit ditoleransi. sesaat sebelum Nabi Muhamad wafat beliau masih memberikan perintah kepada sahabat untuk membunuh nabi palsu yang sebenarnya seorang penyihir…
    begitu tegasnya rasulullah dalam menyebarkan Islam…

    islam memang sudah sunnahkan akan terpecah belah menjadi 72 golongan (mohon doralat juka ada kekeliruan) yang benar2 ISLAM.

    sedangkan ahmadiyah BUKAN islam!!!
    karena tidak mengakui Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. dan sudah barang tentu As Sunnah pun tidak akan diakui… padahal untuk berkomunikasi dengan Allah SWT adalah melalui shalat, sedangkan derakan shalat ditetapkan melalui As Sunnah.

    Allah dalam Al Quran tidak menjelaskan secara rinci setiap gerakan dari shalat, maka itu disempurnakan oleh Nabi Muhammad.

    sekarang mari kita menggunakan sedikit logika…
    masihkah anda menganggap ahmadiyah bagian dari ISLAM YANG SEBENARNYA???

    kang.semar@gmail.com
    …:…:…mohon koreksi dari rekan2 muslim nilamana ditemukan kesalahan…:…:…:….

    Like

    Saturday, June 21 , 2008 at 5:43 pm

  9. Adhimas Iwan

    Skedar sedikit nimbrung menanggapi..

    Sepengalaman saya dari waktu saya kecil yang tinggal di kawasan “semaki cilik / semaki kulon” Yogyakarta, saya telah melihat kehadiran Ahmadiyah, bahkan kala itu terpampang papan nama “AHMADIYAH LAHORE INDONESIA” di salah satu komplek bangunan didekat stadion mandala krida. Sepengetahuan saya saat itu kehidupan beragama nyaman-nyaman saja, baik antar agama maupun yang dibawah satu “bendera” dengan beberapa alirannya. Hingga saat ini, satu hal yang saya terapkan dalam bergaul, yaitu salah satu potongan ayat dari Al Qur’an yang menyebutkan : “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku..”. Toh Alhamdulillah saya bisa bergaul dengan enak dan nyaman dalam berbagai kalangan dan lapisan masyarakat.. .Yang menurut saya (sebagai muslim yang katakanlah awam tentang pengetahuan adanya aliran-aliran tersebut), apabila dijabarkan secara luas, kita harus saling menghormati antar pemeluk agama dan kepercayaan, juga antar pemeluk dalam satu keyakinan meski menganut aliran yang berbeda, toh pada intinya juga sama, secara vertikal, hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang mana bagi pemeluk Islam ya Allah SWT, yang dalam “bendera” yang lain ada yang menyebutkan Gusti, Sang Hyang Widhi, Sang Pangeran, dll, namun intinya ya sama (menurut saya) berbakti kepada Sang Pencipta. Seperti halnya dituliskan dalam Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa..
    Dus, menurut saya koq sebenarnya bisa-bisa saja kehidupan beragama dan ber-kepercayaan dibuat menjadi nyaman..
    (Mohon maaf apabila komentar saya ada yang tidak sesuai, mohon dimaklumi sehubungan dengan keterbatasan pengetahuan saya)

    Like

    Saturday, June 21 , 2008 at 8:54 pm

  10. putu suwarta

    salam kenal,

    nama saya Putu dan saya tertarik untuk ikut berdiskusi di sini.
    Saya ada pertanyaan untuk KAng Semar,
    di tulisan anda, anda menyatakan ‘sesaat sebelum Nabi Muhamad wafat beliau masih memberikan perintah kepada sahabat untuk membunuh nabi palsu yang sebenarnya seorang penyihir…
    begitu tegasnya rasulullah dalam menyebarkan Islam’
    Saya bertanya kepada anda, mengapa Nabi Muhammad memerintahkan pembunuhan yang notabene mengambil nyawa manusia??apakah nabi palsu itu mengancam nyawa beliau dan pengikut2nya secara langsung??
    sebab jika penyebaran Agama dengan melakukan pembunuhan (mengambil nyawa manusia), saya kira itu sudah menyalahi hukum alam.
    saya hanya ingin keterangan dari anda, sebab saya bukan muslim. HAnya ingin belajar sebanyak2nya dan dari mana saja.
    terima kasih dan maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan

    Refanidea: Hai Putu, thanks udah mampir. 😉
    Pertanyaannya OK tuh.. Kalau pertanyaan itu ditujukan ke Kang Semar, kita tunggu deh tanggapan beliau.. 🙂

    Like

    Friday, June 27 , 2008 at 10:34 pm

  11. Hi Fan,

    Still love your writing. Di blog gw…kita sempat ngobrolin Ahmadiyah. Kebetulan kita melihatnya secara humanis saja dan samasekali tidak berusaha mengilik2 perbedaan antara Islam Ahmadiyah dan Islam mainstream dan sebagainya.
    http://www.pelopor.nl/2008/thats-odd/

    Kita melihatnya secara sederhana saja bahwa pemahaman kehidupan beragama di Indonesia masih di tahap toleransi. Berusaha menghargai bahwa ada perbedaan. Tapi menerima kenapa seseorang berbeda…nah itu hal yg lain lagi.
    Dan diskusi terbuka seperti yg terjadi di blog ini termasuk salahsatu sarana untuk mencoba mengerti pilihan orang lain. Hal yg lain yg mungkin harus mulai diipikirkan adalah memulai pelajaran komparatif ttg agama dan bukan sekedar pelajaran PMP (masih ada engga sih?)

    Lalu pertanyaan2 seperti sampai kapan penyimpangan2 ini dibisa dimaklumi…well that’s way Indonesia negara hukum bukan? Anda tidak suka dengan Ahmadiyah, tuntut mereka secara hukum tp jangan main bakar, jangan main pukul dan jangan main bunuh. Karena tiap makhluk hidup di Indonesia (harusnya) dilindungi hukum untuk punya hak hidup dan bicara.

    Terus satu lagi…karena ifan bilang soal masalah kristen yg terbagi dua…salah Fan…justru terbagi buanyak hehehe dan kalo lihat sejarah ada banyak perang antara kristen protestan (luther dan calvinist) lawan katolik lalu ada lagi katolik lawan catharan…sampai di awal thn 60-an di belanda masih ada yg stasiun tivi buat katolik ada yg khusus buat protestan.
    dipikir2 pentingkah perang2 seperti ini? Engga sama sekali…karena balik2nya semuanya hanya justifikasi ego manusianya saja yg terusik yg butuh pengakuan bahwa apa yg diajarkan itu yg plg benar tanpa memerdulikan norma paling dasar sebagai manusia yaitu saling mencintai dan bukannya saling membunuh.

    Seperti yg gw bilang kalo memang tidak setuju Ahmadiyah pakai nama Islam tuntutlah di pengadilan untuk mereka menanggalkan nama tsb…jadikan preseden tp jangan pakai kekerasan. Apakah kita masih hidup di jaman Barbar? dimana kekerasan boleh karena memang itu hukumnya?

    Refanidea: PMP [Pelajaran Moral Pancasila] udah diganti dengan PPKn [kalau nggak salah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan]. Tapi kedua pelajaran tadi nggak beda jauh isinya: moralitas. Dan pertanyaan2 dalam ujiannya sering mengarahkan pada jawaban yang normatif berupa pilihan ganda –bukan esai.
    Misal, “Bila terjadi bencana alam, apa yang anda lakukan?”
    a. Menyumbang.
    b. Tidak Peduli.
    c. Mengirim bantuan pakaian pantas pakai.
    d. Jawaban A dan C benar.

    Di Universitas Paramadina yang berdirinya diprakarsai Nurcholish Majid –salah seorang tokoh Islam moderat– kini ada mata kuliah Anti Korupsi. Materi itu sempat dikritisi oleh pakar pendidikan dan pendidik di Lab. School Arief Rahman dalam sebuah talkshow pagi di TV One, jangan sampai materi kuliah Anti Korupsi itu semata berbicara mengenai moralitas yang berujung pada dataran normatif saja karena tidak dapat menyentuh akar persoalan korupsi yang telah membudaya di Indonesia. Kritik Arief Rahman tentu bukan sikap pesimistis atas semangat pemberantasan korupsi, melainkan dorongan agar materi-materi pendidikan yang sifatnya suplemen itu benar-benar efektif nantinya ketika mahasiswa masuk di dunia profesional. Sebagai tambahan informasi dan bahan perbandingan, di SMA PIRI Jogja yang notabene didirikan oleh tokoh Ahmadiyah Lahore, secara rutin diadakan diskusi tentang toleransi beragama dan pluralisme. Dihadirkan tokoh dan pemuka dari berbagai agama [Islam, Kristen, Hindu dan Budha] dengan audience para siswa dan guru sekolah.
    Jadi pendapat mba Dian, “kehidupan beragama di Indonesia masih di tahap toleransi, berusaha menghargai bahwa ada perbedaan. Tapi menerima kenapa seseorang berbeda, itu hal yg lain lagi.” dan “diskusi terbuka seperti yg terjadi di blog ini termasuk salah satu sarana untuk mencoba mengerti pilihan orang lain. Hal lain yg mungkin harus mulai dipikirkan adalah memulai pelajaran komparatif ttg agama dan bukan sekedar pelajaran PMP” telah dimulai di SMA PIRI Jogja. Ada yang mau mengikuti jejaknya..? 🙂

    Baru denger nih tentang Luther & Calvinist. Yang gue tahu baru tentang Kristen Unitarian mba. Di Indonesia katanya ada mailing-listnya, atau mungkin sudah ada lembaga atau organisasinya?
    Mereka Unitarian, tidak mengakui selebrasi Natal 25 Desember sebagai hari kelahiran Jesus, maka mereka juga tidak merayakan Natal. Pernah aku baca di sebuah milis nasional penuturan mereka tentang epistemologi Jesus, “Jesus itu diambil dari bahasa sebuah negara/wilayah tertentu yang akhirnya dipakai di banyak negara. Jadi di Indonesia tidak harus menggunakan nama Yesus, tapi bisa Slamet atau Joko”. Begitu kritik dan penafsiran mereka yang Unitarian.

    Aku ada link tentang kritik atas Natal:
    http://kristologi.wordpress.com/2007/02/28/misteri-natal-menurut-seorang-pastur-yang-kritis-pemikirannya/
    Tapi aku nggak tahu, apakah tulisan tsb mewakili temen2 Unitarian atau bukan.

    Mba Dian, tentang ego manusia, ketika seseorang atau sekelompok umat MERASA TELAH MENCAPAI tingkat keimanan tertentu dalam menjalani kehidupan agamanya, muncul kecenderungan yang bernama keegoisan agama –seperti ditulis Goenawan Mohamad dalam esainya “Indonesia”. Keegoisan itu termanifestasi dalam sikap yang selalu merasa benar, sceptical, anti kritik, dan tidak toleran bahkan dengan yang seagama namun berbeda pandangan atau penafsiran.

    Kalau temen2 Unitarian yang gue sebut di atas tadi, menurut mba Dian boleh pakai nama “Kristen” atau nggak? Dan kira-kira kalau Unitarian menjadi organisasi, apakah bakal mengalami nasib yang sama dengan Ahmadiyah?

    Like

    Tuesday, July 1 , 2008 at 3:54 pm

  12. Hemmm…unitarian….pernah dengar tp engga terlalu banyak tahu mengenai perbedaannya dengan kristen tradisional seperti katolik, lutheran atau calvinist. Apakah dengan tidak merayakan natal berarti unitarian tidak boleh memakai nama Kristen…hehehe I’m not that right person to answer it but okey let’s answer it from personal perspective of Dian saja yah.

    Kalo si unitarian percaya hukum kasih Kristus (cinta Tuhan dan cinta sesama), percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan berhasil mengalahkan maut dan naik ke Sorga plus hidup seperti dalam contoh Kristus (cinta Tuhan, hidup dalam damai dan etika kristen) yah engga ada alasan untuk tidak memperbolehkan unitarian tidak memakai nama Kristen.

    Sekedar tidak merayakan hari lahir Kristus saya rasa bukan cuma Unitarian saja…ada beberapa aliran lainnya yg jg tdk merayakan Kristus…lebih menekankan ke hari kebangkitan Kristus, yg merupakan tanda harapan bahwa maut, musuh manusia, dapat dikalahkan lewat percaya pada Kristus Yesus (salahsatu basis dasar iman kristiani).

    Mungkin kesannya kristen permisif sekali yah 🙂 tp memang kalo melihat sejarah banyak terjadi konflik dan transformasi dalam sejarah kekristenan. Dimulai dari masa bahwa kristen dilarang di jaman romawi sampai akhirnya diakui oleh Oktavianus (kaisar Romawi) karena takut terjadi banyak pergolakan politik (disebabkan waktu itu banyak yg convert dari menyembah berhala ke kristen), kemudian lembaga gereja dibentuk lewat murid2 Kristus, kemudian gereja sendiri menjadi unik karena penyebarannya ke berbagai budaya (jadi yah kenapa tidak Jesus jadi Joko misalnya) plus ditambah peranan politik di tiap masa yg mempengaruhi tata ibadah dan terkadang penafsiran ttg ajaran Kristus. Sebagai contoh kecil, munculnya Lutheran adalah karena melawan keinginan kebijakan Gereja Katolik Roma yg saat itu ingin menambah kas gereja dengan menjual surat bebas dosa. Kesannya kalo beli surat bebas dosa bisa langsung masuk sorga.

    Saat itu orang2 biasa yah percaya saja karena tidak semua orang bisa dapat akses untuk membaca Alkitab. Hanya pendeta2 saja yg boleh dan bisa baca Alkitab, bahasanya pake bahasa latin (kalo gak salah). Martin Luther kemudian menggugat si surat bebas dosa ini karena menurut penafsiran beliau, penebusan dosa adalah kado dari Tuhan bukan diperjualbelikan dan hanya bisa didapat bila si pendosa mengakui dosa, hidup baru dan percaya imani pada Kristus. Si Luther ini merupakan orang pertama yg menerjemahkan alkitab ke bahasa lain selain latin-ke bhs jerman untuk konsumsi semua orang dan bukan hanya pendeta atau bangsawan.

    Boleh dibilang masa Luther ini banyak sekali pengikutnya (disebut kaum protestan) yg dibakar hidup2 sebagai kafirnya umat Kristen. Kalo Fan ke kota2 Eropa seperti Gent atau kota2 di south France tuh suka ada plakat bilang di sisi kota ini ada si anu si ani dibakar karena mbeling atas perintah raja X yg katolik (well kebetulan saat itu katolik yg mayoritas).

    Tp pembakaran dan aksi2 pembunuhan ini tidak berarti selesainya reformasi penafsiran kekristenan sebagaimana yg dituntut gereja katolik roma. Setelah Luther muncul Calvinism, Anglican England (lebih berdiri di tengah2 antara katolik dan protestan), Jehovah witness, macam2 deh.

    Jatuhnya…kalo tidak open-minded yah bisa2 muncul perang internal-salib hehehe tp blk lg ke konsep bahwa semua orang berhak mencari kebenaran akan konsep ber-Tuhan. Jd mungkin banget setelah baca ttg Unitarian gw bilang wah ini sih bukan Kristen menurut konsep gw diatas…tp bukan berarti gw berhak main hakim sendiri, ngamuk2 engga juntrungan toh 🙂 Kudu harus cari lebih dalam lg. Ngobrollah sama si Unitarian…toh belom tentu doi jg demen dibilang Kristen karena mungkin konsepnya dia percaya sama Jesus beda sama konsep kristen tradisionalis.

    Btw…apakabarnya SMU Piri? apakah masih berfungsi? Jujur menurut gw komparatif agama ala SMU Piri itu harusnya diadopsi oleh SMA2 atau paling tidak mahasiswa2 tahun pertama atau kedua. Biar bisa mengurangi prejudice yg sebenarnya lahir dari ketidakpedulian ttg agama lain.

    Like

    Wednesday, July 2 , 2008 at 5:52 pm

  13. Hmm,
    dulu di awal aq belajar mengenal agamaku ini,
    aq mengawalinya dengan belajar aqidah,
    sebagaimana yang dicontohkan oleh rasulluh bahwa sebaik-baik umat yakni para sahabat rasul (terutama 10 sahabat yang masuk surga tanpa hisab),
    seiring perjalanan, sesudah aqidahku mantap,
    aq belajar juga tentang manhaj,
    sungguh aku bersaksi, bahwa engkau, “Refanidea” bukanlah seorang muslim yang berdiri di atas ilmu,
    jika engkau muslim, maka aq malu atas pernyataanmu itu, saranku, bertaubatlah dan belajarlah…
    tausyiah qu, belajarlah lagi tentang agamamu.
    semoga ALLAH memberi hidayah kepadamu,…

    Refanidea:
    tulisan ini memang dibuat oleh orang yang belum banyak ilmunya, tidak seperti anda yang aqidahnya sudah mantap. sehingga bisa mengatakan, “sungguh aku bersaksi, bahwa engkau, Refanidea bukanlah seorang muslim yang berdiri di atas ilmu”.

    tulisan saya di atas adalah opini sekaligus umpan diskusi. umpan boleh saja berupa cacing yang jelek, bikin geli, dan mungkin bikin merasa jijik. tapi cacing yang jelek dan menggelikan itu seringkali bisa bikin melek mata ikan-ikan yang ingin mangap.

    Like

    Sunday, August 3 , 2008 at 11:05 am

  14. rahmadisrijanto

    Refanidea says : “tulisan saya di atas adalah opini sekaligus umpan diskusi. umpan boleh saja berupa cacing yang jelek, bikin geli, dan mungkin bikin merasa jijik. tapi cacing yang jelek dan menggelikan itu seringkali bisa bikin melek mata ikan-ikan yang ingin mangap”.

    dalam kitab-kitab aqidah, (cobalah saudara baca) ada pembahasan tentang larangan berdebat dengan ahlul bid’ah, apalagi terhadap mereka yang jelas-jelas keluar dari islam!!

    ku cukupkan bahasanku tentang ini denganmu,
    tausyiah qu, belajarlah lagi tentang agamamu.
    semoga ALLAH memberi hidayah kepadamu,…

    refanidea: tentang doanya saya ucapin makasih. semoga Allah memberi selalu memberi saya hidayah.. amin..

    ok, dari blog anda saya tau akidah yang anda maksud..
    ya, double standard..

    Like

    Tuesday, August 5 , 2008 at 9:58 am

  15. abdee

    baxak banget tanggapanx..tpi sungguh msalh negara ini awalnya adlh athamahum minju’ wa amanahum min khauuf..jgn klaim dirimu islam dn yg lain tdk..berbuatlh dan brkryalh maka Allah,Rasul dan org2 mu’min akan melihat..setelh itu jika penilaian trhdapmu baik maka mereka akn ikut kpdamu.itulah dakwah bil haal..klu islam ga usah pake bilang2 saya islam dan bilng yg lainya salh krn g sprti sya!!Duh Gusti,malu!!sudah tunjukkn saja..beri contoh dulu yg bener!!bru bicara..sekarang saja kmu habiskn uangmu unk rokok!!jelas2 itu mmpercpat kematian dn g bikin kexang..mending uang buat beli rokokmu itu kmu sumbangkn k mereka yg g bisa mkan,k panti asuhan,mmbangun sekolah,bikin pabrik dn buka lapangn usaha..itu lebih brmnfaat..maka itulah ibadah.Rasul itu dakui k islamanx setelh brkarya dn kryax menjadi maslht unk seluruh alam..al-maidah ayt 3.kmu sudah buat apa?kami ini lapar dn penuh rasa takut!!yg kmrn melakukan mutilasi itu org islam!!saudaramu!!yg korupsi jga islam!!saudaramu!!yg mabuk2an dan free sex jga islam!saudaramu!kmu kmna dan dmn!!!mmbiarkn mrka djln sesat yg nyata bgtu!

    Refanidea: kalau yang nulis komentar, Islam bukan..? 😀

    Like

    Monday, August 11 , 2008 at 11:54 pm

  16. tulisannya keren. iya tuh, saya juga heran kenapa orang-orang islam begitu getol memaksa orang ahmadiyah mendirikan agama sendiri? dalam islam, tidak ada orang atau lembaga yang punya wewenang mengusir orang dari islam…
    ahmadiyah juga dibiang menodai agama islam. apanya yang ternoda coba?bukankah orang islam masih bebas meyakini apa yang mereka yakini dan beribadah sesuai keyakinananya?
    penodaan agama itu konsep yang absurd dan menggelikan….

    Like

    Tuesday, August 19 , 2008 at 10:13 pm

  17. Ustadz Uje

    Kepada Saudari Lina Dahlan,
    Saya tidak percaya anda sudah menelaah Ahmadiyah dari narasumbernya langsung, paling-paling anda membaca buku-buku karya Hartono Ahmad Jaiz atau Amin Jamaludin. Saran saya untuk anda, sebaiknya anda datangi Mesjid Ahmadiyah dan meminta kepada mereka buku-buku tentang Ahmadiyah, Insya Allah anda tidak akan tersesat ! Tidak benar Ahmadiyah mempunyai kitab suci tersendiri, Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah ! Anda salah besar. Dan sekali kali kalau anda ada waktu lihatlah siaran MTA (Moslem Television Ahmadiyah) di parabola. Di Televisi kepunyaan Ahmadiyah ini, Islam yang indah disebar luaskan ke seluruh penjuru dunia, 24 jam tanpa iklan pula ! Apalagi anda akan melihat Ahmadiyah sedang giat-giatnya mendirikan mesjid di benua Eropa dan seluruh dunia. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah Muhammad Saw bahwa “di akhir zaman matahari akan terbit dari Barat.” artinya keunggulan Islam justeru akan terbit dari dunia Barat.

    Like

    Friday, October 24 , 2008 at 5:09 pm

  18. agung dwi nugroho

    Saya Lulusan SMU PIRI 2 Yogyakarta,

    Kok setelah saya amat-amati …nggak ada yang mengatakna kalau Hazrat Mirsa Ghulam Ahmad itu adalah KHALIFAH…..bukan Nabi….mungkin anda-anda yang berkomentar diatas belum membaca benar buku-buku AHMADIYAH…anda2 cuma tahu dari kabar-berita-dari mulut orang dan bukan dari buku-buku terbitan AHMADIYAH ataupun yayasan2 nya. Setahu saya HMA adalah Khalifah setelah NABI MUHAMMMAD SAW dan HMA mengakui kalau Muhammad adalah Nabi terakhir….
    Saya Mohon Pelajari Dulu Ajaran Ahmadiyah…atau baca buku-bukunya baru komentar. dan saya yakin orang 2 seperti FPI adalah orang2 BODOh…yang tidak mempelajari permasalahannya….
    Hei orang2 FPI Belajar DULU DONG baru KOMENTAR….
    Wassalam

    Like

    Saturday, April 4 , 2009 at 11:12 am

  19. ane

    Assalamualaikum,
    rumah saya deket masjid ahmadiyah (madiun), disekitar banyak bukan anggota ahmadiyah (mayoritas), tapi warga bukan ahmadiyah sebagiah sholatnya di masjid ahmadiyah bahkan sering terlibat kegiatan bersama, kata mereka (yang bukan ahmadiyah): sama aja tuh mulai dari nabinya (Muhammad SAW/kalo MGA katanya dianggap sebagai Masih Mauud (kata pak Kyai Masih mauud memang akan datang diakhir zaman, kira-kira sekarang sudah akhir zaman belum ya?..)), kitabnya (Al Quran, karena tiap subuh mereka dars Al Quran dan tidak ada yang punya Tadzkiroh bahkan kyai/mubalighnya), ternyata ada beberapa warga juga beljar baca Al Quran di masjidnya, puasanya (wajib: di bulan ramadhan), zakatnya (bahkan mereka rutin bayar zakat penghasilan tiap bulan yang nilainya sampai 10%, setahu saya umumnya 2,5%, ni kali yang beda), hajinya (ke mekkah; karena bbrapa orang ahmadiyah ternyata sudah haji ke Mekah), wallahu alam, hanya Allah swt yang paling tahu siapa yang sesat

    Like

    Saturday, December 5 , 2009 at 9:58 am

  20. Hendrik

    Ada satu hal menarik mengenai Ahmadiyah, yang berkaitan dengan Sains modern.

    Sejak abad ke-20, salah satu ukuran puncak prestasi Sains dapat dilihat pada penghargaan Nobel. Kalau melihat 500-an nama pakar peraih Nobel yang membangun Sains modern, hanya sedikit sekali yang muslim. Kalau tidak salah, cuma dua orang. Kalaupun ada yang lolos dari hitungan, totalnya tidak sampai 5 orang, di antara 500-an nama. Tidak sampai 1 persen.

    Satu di antara 2 orang itu adalah prof. Abdus Salam, pakar Fisika modern terkemuka asal Pakistan yang kemudian menetap di Eropa. Karya Abdus Salam diakui sebagai salah satu sendi fundamental dalam usaha menyatukan semua hukum Fisika.

    Melihat sedikitnya muslim yang berprestasi pada level setinggi itu, sewajarnya keberhasilan Abdus Salam disambut dengan gembira oleh dunia Islam. Namun karena dia pengikut Ahmadiyah, sebagian orang tidak mau merangkul prestasinya sebagai prestasi umat Islam. Batu nisan Abdus Salam mula-mula bertuliskan “Peraih Nobel Muslim Pertama”. Namun kata “Muslim” kemudian dihapus. Ironis, hanya punya 2 orang peraih Nobel, tapi bukannya gembira, malah tidak diakui.

    Like

    Wednesday, January 12 , 2011 at 12:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s