Make Bike Not Car


Sejarah Sepeda

Pernah melihat sepeda seperti ini .. ?

Sepeda ini bentuknya unik dan terkesan lawas. Namun ia sebenarnya bukanlah bentuk sepeda pertama di muka bumi, melainkan bentuk evolusi sepeda ke empat. Bentuk rancang bangun kendaraan roda dua pertama kali bernama Draisine atau hobby horses. Kemungkinan besar ide pembuatan sepeda terinspirasi dari kuda.

Beginilah bentuk generasi pertama sepeda yang bernama Draisine -juga dikenal dengan Laufmaschine — yang dibuat oleh Karl von Drais, seorang Jerman, pada tahun 1818, 190 tahun yang lalu.

Dapat kita lihat bahwa materi frame atau rangkanya terbuat dari kayu. Draisine belum dilengkapi dengan pedal meski telah menggunakan kemudi. Seperti terlihat pada gambar di atas, cara menggerakkan sepeda dengan mendorong atau melecutkan kaki pada permukaan jalan.

Pada tahun 1830 seorang Skotlandia bernama Thomas Mc Call merancang sepeda dengan pijakan kaki -bukan pedal– yang dikenal dengan sebutan Two Wheels Velocipede. Tiga puluh tahun kemudian 1860, Pierre Michaux dari Perancis memperkenalkan sepeda dengan engkol berpedal dan roda depan yang lebih besar.

Antara 1969 dan 1970, James Starley membuat sepeda berpedal dengan gabungan konstruksi besi dan kayu. High-wheel bicycle yang gambarnya ada di awal tulisan ini memiliki roda depan yang sangat besar. Dengan posisi duduk yang sangat tinggi ditambah lagi posisi pedal dan kemudi di depan, sepeda model ini sulit untuk dikendarai karena pembagian berat yang tidak seimbang. Tapi setidaknya ordinary bicycle ini mulai mengenal roda berjari-jari dan menggunakan ban berbahan dasar karet.

Dwarf ordinary atau ordinary bicycle kemudian disadari memilik beberapa kelemahan. Diameter roda depan yang besar, posisi kemudi dan pedal yang sama-sama terletak pada roda depan, mengurangi kemampuan sepeda untuk melaju lebih cepat dan sulit untuk dikendalikan pada berbagai kondisi jalan.

John Kemp Starley, seorang Inggris, pada 1885 menemukan solusinya dengan merancang sepeda berpenggerak rantai [chain drive] untuk menghubungkan roda belakang dengan pedal. Model ini dikenal dengan sebutan dwarf safeties atau safety bicycles, dengan seat-height yang lebih rendah dan pembagian berat yang lebih seimbang. Tak lama setelahnya, sadel sepeda ini diberi peredam getaran [shock absorber] berupa dua tabung berbentuk keong.

Pada tahun 1960 kita mulai mengenal sepeda balap [racing bike] dengan model setang melengkung -diciptakan oleh orang Amerika. Dan pada pertengahan 1970-an, Amerika kembali memunculkan sepeda gunung [mountain bike], yang modelnya kini sangat beragam.

Komunitas

Di Indonesia ada banyak komunitas sepeda. Motivasi membentuk komunitas sepeda ternyata unik dan bermacam-macam. Ada yang bergabung karena kesamaan model, senang berpetualang, suka kongkow dengan sepeda, juga yang serius membuat komunitas lengkap misi dan visi layaknya organisasi perusahaan.

Tentang kesamaan misi dan visi, tergabunglah mereka dalam komunitas Bike To Work. Visinya adalah membudayakan masyarakat bersepeda ke tempat kerja, mengurangi polusi, hemat penggunaan bahan bakar. Prinsipnya sederhana: ngantor naik sepeda. Jadi tak masalah sepeda model apa yang anda gunakan selama spirit mengendarai sepeda mengalir di darah anda. Aliran ini disebut juga bike activist.

Mereka yang suka berpetualang lebih memilih lokasi yang menantang, misalnya di daerah perbukitan atau permukaan jalan yang terjal. Jenis trek -yang tidak umum– ini memerlukan spesifikasi sepeda yang lain dari biasanya. Mereka menggunakan frame yang lebih ringan, tapak ban lebih lebar dengan pola kembangan dan permukaan khusus, fork suspension, dan disc brake [rem cakram]. Umumnya, penggemar aktifitas bersepeda off road ini disebut cross country atau mountain biking.

Low Rider, sepeda yang diadopsi dari model custom bike [motor besar modifikasi] lebih menonjolkan style. Kalau dipikir-pikir sih, naik sepeda low rider tak lebih nyaman dibanding jalan kaki. Coba saja.. Boleh jadi mereka memang gemar bersepeda, tapi sisi ergonomis tidak menjadi pertimbangan yang utama. Bagi mereka, gaya sepeda dan penunggangnya yang utama. Jadi mungkin, sepeda model ini bisa disebut show bike. Tapi dari segi estetika, bagi saya low rider memang tak ada tandingannya dalam ranah sepeda modern. Sumpah, mantaf..!

Anda suka sepeda tua..? Penggemar sepeda tua atau sepeda kumbang tak selamanya berusia lanjut. Anak-anak muda banyak sekali yang menggemari sepeda tua. Seperti kita tahu, penggemar kendaraan lawas jenis apapun, rasanya memang perlu komunitas untuk mempertahankan eksistensi hobi dan kendaraannya. Penggemar VW, Willys, Norton, HD-WLA, Holden, Scooter, rajin bertukar info tentang tunggangannya itu. Mulai dari info acara ngumpul mingguan, jambore, maintenance, hingga item terpenting dari semuanya: onderdil. Begitu pula penggemar sepeda tua, mereka rajin kumpul minimal seminggu sekali untuk ngobrol, nongkrong, konvoi bareng malam minggu, hingga tukar-menukar dan jual beli onderdil.

Sudah Lama Copenhagen Bersepeda

Beberapa waktu lalu saya baca artikel menarik bikinan Zaki Habibi di Kompas, “Selama Mengayuh, Copenhagen Tak Pernah Terasa Jauh.” Saya kutip tulisannya di sini,

“Seluruh kendaraan di Copenhagen berjalan di sisi kanan. Secara berturut-turut struktur ruas jalan di kota ini adalah trotoar bagi pejalan kaki, lalu jalur khusus sepeda selebar 2,2 meter. Kemudian, di sisi kirinya jalur khusus bus kota dan barulah di tengah adalah jalur cepat untuk kendaraan roda empat atau lebih..”

“.. kebijakan infrastruktur juga menyediakan lampu pengatur lalu lintas bagi seluruh pengguna jalan, termasuk pejalan kaki dan pengendara sepeda. Oleh karena itu, amat jarang terjadi pejalan kaki atau pengendara sepeda diserempet mobil karena tidak ada kesemrawutan jalur..”

“Jaminan atas keamanan dan kenyamanan mengendarai sepeda di Copenhagen makin kuat, khususnya sejak Mei 1995. Kala itu diluncurkan program sepeda komunitas bertajuk ByCyklen-City Bikes untuk mendorong agar makin banyak orang bersepeda. Kota menyediakan sepeda-sepeda yang tersebar di titik-titik tertentu yang dapat digunakan siapa saja dengan membayar sejumlah uang tertentu..”

“..saat pelancong banyak berdatangan ke Copenhagen pada musim panas, setiap orang bisa menikmati kota dengan bersepeda hanya dengan biaya sewa 20 krone Denmark atau sekitar Rp 40.000. Untuk berapa lama? Seharian sepuasnya..”

Tak lama setelah membaca tulisan itu, saya segera terbang ke Copenhagen. Zaki Habibi tidak bohong! Saya membuktikan sendiri.

Copenhagen Cycle Chic

Di Copenhagen saya temukan salah satu komunitas penggemar sepeda yang unik banget. Nama komunitasnya Copenhagen Cycle Chic. Spiritnya, mendorong gadis-gadis supaya makin doyan nyepeda.

Gadis-gadis Copenhagen ternyata memang asik, seru! Saya sempat ambil beberapa gambar gadis-gadis Copenhagen yang sedang melintas dengan sepeda.

Lihat.. Meski naik sepeda mereka tetap modis.. tetap warnawarni.. tetap girly.. Mantaf..!

Saya sempat ngobrol dengan beberapa anggota Copenhagen Cycle Chic . Ternyata mereka sangat ramah dan antusias sekali bicara tentang sepeda.

Dan yang paling penting, mereka punya 10 statement menarik yang disebut,

The Copenhagen Cycle Chic Manifesto:

  • I choose to cycle chic, and at every opportunity, I will choose Style over Speed.

  • I embrace my responsibility to contribute visually to a more aesthetically pleasing urban landscape.

  • I am aware that my mere prescence in said urban landscape will inspire others without me being labelled as a ‘bicycle activist’.

  • I will ride with grace, elegance, and dignity.

  • I will choose a bicycle that reflects my personality and style.

  • I will, however regard my bicycle as transport and as a mere supplement to my own personal style. Allowing my bike to upstage me is unacceptable.

  • I will endeavour to ensure that the total value of my clothes always exceed that of my bicycle.

  • I will accesorize in accordance with the standards of bicycle culture and acquire where possible, a chain guard, kickstand, skirt guard, fenders, bell and basket.

  • I will respect the traffic laws.

  • I will refrain from wearing and owning any form of ‘cycle wear’. This only exception being a bicycle helmet -if I choose to secure my freedom of personal choice wear one.

Sepulang dari Copenhagen, salah satu dari mereka mengirimi saya tiga buah foto lewat email. Saya tersenyum saat menerimanya.. Cantik..

Saya juga ingin memuat beberapa foto tentang sepeda yang sempat saya ambil di sana.

Foto terakhir di bawah ini bikin saya pengen punya anak -bukan istri. Hihihi..

Hmm.. Copenhagen.. Kota yang menyenangkan..

Tiba-tiba bahu saya terguncang keras, “woyy.. bangun, udah siang..!” teriak adik saya. Mata ini terbuka.. Lengket dan agak pedih..

Ahh.. sial..! Tega-teganya dia menarik saya dari Copenhagen kembali ke kamar.

Kalau Anda pengen dolan ke Copenhagen, ketik saja google.com! Saya mau tidur lagi..

Kring.. kring..

Advertisements

18 responses

  1. Salam kenal Refanidia,
    Wah tulisannya menarik sekali ya? Jadi ingat waktu SMP, harus mengayuh sepeda 34 km pp. Sekarang baru 1 km sudah sesak napas. Ok deh sekali lagi salam kenal.

    Like

    Wednesday, July 30 , 2008 at 1:52 am

  2. Elys Welt

    nyepeda sudah jadi hobi kami tiap hari 🙂

    Like

    Wednesday, July 30 , 2008 at 1:26 pm

  3. Hehehe… saya jadi pengen ke Copenhagen Mas hehehe…. salam kenal -japs-

    Like

    Thursday, July 31 , 2008 at 10:35 pm

  4. dddoooh yang lagi keranjingan biking ;p

    Ifan: kabar terakhir San, biking sebagian dari iman 😉

    Like

    Friday, August 1 , 2008 at 10:41 am

  5. datang saja ke Copenhagen klo ada kesempatan.
    selamat menikmati petualangan dgn sepeda.
    di Amsterdam suasana bersepeda juga tak beda, dan bbrp bagian di Jerman dan Perancis juga punya kultur serupa.

    anw, salam kenal ya, refa.
    terima kasih sudah mengutip artikel saya dan meletakkannya di sini.

    Refanidea: Hehe.. welcome to ‘my paradise’ bro zaki habibi.. Artikel anda di kompas, paten! biasanya sih, saya searching nama penulis [apakah dia punya blog/tidak] setelah baca sebuah artikel. kebetulan belum sempet searching blog anda mas.. dengan ini, saya nggak perlu searching. hehe..
    [menuju blog zaki habibi dengan sepeda, kring-kring..!] 😉

    Like

    Friday, August 1 , 2008 at 12:01 pm

  6. anto

    sepeda lebih romantis juga to fan…

    Bayangkan kaya foto2 jaman dulu. Numpak sepeda, boncengin cewek yg duduk d depan.

    asal ra ngos ngosan wae…:D

    Ifan: ngos-ngosan atau nggak kan tinggal siapa yang diboncengin mas.. kalo yang berat-berat ya ngos tenan.. makanya cari yang langsing ajaa… hehe..
    [hanya Anto dan Tuhan yang tahu maksud saya] 😀

    Like

    Friday, August 1 , 2008 at 3:03 pm

  7. jadi ngiler pingin punya sepeda…. cita-cita yg belum terkabul selama tiga tahun ini…. sayangnya di kota-kota di Indonesia nggak nyaman buat bersepeda, bukan cuma karena belum ada jalur khusus, tapi debu, polusi udara, dan panasnya itu lo…

    mestinya sih jalur-jalur tertentu tertutup untuk kendaraan bermotor.. seperti di malioboro itu…jadi cuma sepeda dan teman-temannya (delman, becak, pejalan kaki) yg boleh lewat

    Refanidea: hai mas.. makasih udah mampir kemari lagi. Apa mau pindah ke Jogja aja mas..? Hehe..
    Udah tiga tahun pengen punya sepeda..? Mungkin harus rajin belajar supaya dapet sepeda dari Ayah..

    “..Kring kring kring ada sepeda, Sepedaku roda tiga, Kudapat dari ayah, Karena rajin belajar..”

    Like

    Saturday, August 2 , 2008 at 6:59 pm

  8. radenwana

    cape maz naek sepeda mah… mending naek bus

    Like

    Monday, August 4 , 2008 at 12:27 am

  9. pengen bisa bersepeda di jakarta tanpa takut keserempet kendaraan laen

    Like

    Monday, August 4 , 2008 at 1:51 pm

  10. embenx

    teringat dulu smp…hahaha… biker sejati…
    dari yang namanya MOS ampe kelas 3,,sempet yang namanya kebut kebutan ama bis kota n pengendara sepeda bermotor…

    hahaha…

    seru seru…

    pengen rasanya nyepeda lagi,,tapi udara jogja sekarang tak seramah dulu… huff..

    Ifan: kok bisa kebut-kebutan ama bis dan sepeda motor, mas..? Kempolmu dadi gueddee noh.. Kempolmu sak telo-telo mesti.. Ho’o toh..? Ngakuuww..!!
    Di-Tattoo wae kempolmu mas, gambare Teletubbies warna pink.. Beylpelukaaaaynn.. 😉

    Like

    Friday, August 8 , 2008 at 1:14 am

  11. ayo ke utrecht biar bisa liat sepeda warna warni…tp disini ada fungsinya berwarna warni…satu biar gampang dikenali dari kejauhan (bayangkan kalo ada 15 sepeda warna item), dua biar ilang salero itu orang2 yg niat nyuri sepeda, tiga biar funkeeh aja…apalagi di negeri ujan berujan ini…aduduh…

    Like

    Monday, September 8 , 2008 at 11:17 pm

  12. Do you have an English version of your site. I’m thinking of doing a documentary about hikes, their history etc and would like to know about that photo you have of the first bike.

    Like

    Monday, November 3 , 2008 at 6:01 am

  13. refanidea

    I’m sorry,indonesian version only. I got those pic from wikipedia&copenhagen cycle chic site.. Thanks mike..

    Like

    Tuesday, November 4 , 2008 at 12:02 am

  14. superman

    Please give me more information about bicycle.Thank you verry

    much.good bye.

    Like

    Thursday, January 8 , 2009 at 6:45 pm

  15. This is awesome, bro!
    keep writing

    ifan: thanks.. 🙂

    Like

    Thursday, April 2 , 2009 at 5:16 pm

  16. san

    jujur,aku seneng and salut bwat mas,tapi tu kan di negeri orang,kapan ya indonesia bisa???setidaknya warga and pemerintah bisa sadar tentang pentingnya bersepeda,,kadang orang naik sepeda dibilang ndeso,padahal bersepeda tu kegiatan yg mulia,
    artikel mas hebat bange t…..
    terus lanjutkan bersepeda!!!!!!

    Like

    Tuesday, May 5 , 2009 at 9:57 pm

  17. jadi inget waktu naik sepeda ontel ke sawah sama paman di desa kedungmiri ngawi jawa timur, udara masih seger tapi sekarang sudah tercemar salam kenal yaaa……..

    Like

    Tuesday, June 16 , 2009 at 10:23 pm

  18. wew,,,,,,,,,,,,
    kerenzz bgtz…………….
    trusin lge ea,,,,
    spy ad sepeda jaman modern yg lbih krenzz….

    Like

    Monday, February 7 , 2011 at 4:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s