Best Rain Ever


*Bacalah pada saat khotib sedang tidak berkhotbah. Sediakan segelas kopi atau coklat panas, sebatang DjiSamSoe, dan hati yang lapang.  😉


Sore hari di kaki bukit. Diatas sana angin bergerak pelan mendorong awan-awan putih pergi berarak. Langit dominan warna biru cerah. Burung-burung liar berkicau dengan riang. Sinar matahari yang miring menembus melalui sela-sela pinus, menerpa wajah kami yang terbuai nuansa.
Berdua dengannya, duduk bersebelahan beralaskan rumput tebal di tepi jurang. Memandangi bukit di seberang yang memanjang dan hijau. Awan besar melintas pelan diatasnya.. Membayangi bukit, menampilkan perubahan terang-gelap yang fenomenal.

Sungai di bawah sana. Tampak beberapa penambang pasir vulkanik sibuk menggali pasir dan mengusungnya ke atas truk. Kami menikmati pemandangan terbaik nan indah yang disuguhkan alam.

“Kita ada disini lagi..”
“Ya.. tempat ini… menjadi lokasi rendezvous kita yang sangat indah sekaligus aman,” ujarku sambil menghisap kretek filter.
“Berapa lama kita berhubungan?“
“Empat bulan, kurang lebih,“ jawabku.
Ia menatapku sebentar lalu memandang ke bukit seberang, “dan sepertinya hubungan ini harus kita akhiri.. “
“Yahh.. Mungkin memang itu yang terbaik.“
Ia melipat kakinya ke depan dada dan menguncinya dengan kedua tangan, “jadi ini adalah hari terakhir kita bersama? “
“Kita bisa bertemu lagi, tapi bukan untuk alasan cinta. Bukan untuk menyatukan rasa. “
“Lalu..? “
“Untuk menjadi sahabat, untuk saling mendengarkan dengan hati, dan untuk saling menyemangati.“
“Dalam mewujudkan mimpi?“, potongnya.
“Yup.. Kamu pandai membaca jalan pikiranku. Tapi, itu juga kalau kamu setuju..“
“Aku setuju.“ Tangannya iseng mencabuti rumput.
“Bagus kalau gitu. Tapi aku sedih.. “, aku menghembuskan asap rokok ke bawah.
“Aku tahu. Aku juga sedih. Tapi.. bukankah kita sama-sama sepakat untuk tidak melanjutkan rasa bersalah?“ tanyanya.
“Kamu benar. Satu hal yang perlu kamu tahu. Aku mencintai bicaramu.. Cara berpikirmu.. Caramu menyikapi banyak hal. Kamu seksi.“
“Seksi? Aku tidak punya pantat kenyal atau dada membusung.“
“Hahaha!“, aku tertawa mendengar pengakuannya, “aku tahu.. Toh kalau kamu punya, suatu hari juga akan kendur.“ Aku lalu berbaring diatas rumput.
“Hmm.. Jadi seksi soal apa?“
“Otak. Isi otakmu.. Seksi.“

“Hahahaha!! Kamu memang laki-laki yang aneh.“
“Memang. Tapi justru itu yang membuatmu mencintaiku.“
“Huuuw.. Sok tahu!“, ia menaburi mukaku dengan rumput yang ia potong-potong.
“Buehh!“, beberapa masuk ke mulutku, “akui sajalah.. kalau aku tidak aneh, kamu akan memilih yang lain.“
“Okey. Kamu benar. Kamu jarang salah tentang aku.“
“Umm.. Boleh aku menciummu untuk yang terakhir kali?“
“Memangnya aku mau mati?!“
“Iya, sebentar lagi kulempar kamu ke jurang!“
“Kalau aku tidak mati?“
“Aku kejar kamu kebawah!“
“Mau apa? Tusuk aku?“
“Aku mau bawa kamu keatas, lalu melemparmu lagi.“
“Hahaha.. Gila! Kalau aku tidak mati juga?“
“Aku kejar kamu ke bawah lagi.”
“Lempar lagi?”
“Nggak, aku cium bibir kamu.. Boleh kan?”
“Aku memang ingin dicium saat ini..” ia serius.
“Olehku?”
“Bukan! Oleh penambang pasir di bawah sana. Hahaha!”
“Sialan!” aku gondok.
“Oke-oke. Jujur.. aku pengen kamu cium. Untuk yang terakhir kali..”
“Sungguh..?”
“Iya.. tapi sayang langit terlalu cerah.”
“Apa hubungannya?”
“Aku ingin hujan turun sekarang. Membuat tubuh kita basah kuyup dan kedinginan.”
“Lalu..?”
“Lalu kita berciuman.. diantara hujan.. diantara pinus-pinus ini. Kamu ingat pertama kali kita berciuman?”
“Lupa. Kapan?”
“Ahh.. Kenapa sih laki-laki sering melupakan momen-momen romantis seperti itu?” Ujarnya kesal sambil melempar kerikil ke dasar jurang. Ia kemudian melanjutkan lagi, “Kamu ingat sore itu.. Di tepi pantai.. Di dalam mobilku.. Aku menangis karena cemburu. Karena kita saling mencintai.. tapi secara de facto kamu milik perempuan lain.”
“Oh, iya.. Sejak itu aku sadar bahwa ternyata kissing itu bisa memberi efek yang menenangkan.”
“Fiuuhh.. Kupikir kamu benar-benar sudah lupa!”
“Mana mungkin! Aku cuma pura-pura lupa. Sejujurnya aku sulit untuk melupakan momen itu.”
“Bagus kalau begitu. Waktu itu aku menangis. Kita berciuman sementara air mataku jatuh menetes hingga membasahi bibir kita. Hmmhh..” ia menghela nafas panjang..
Aku juga benar-benar ingat ketika itu ia mengangis. Ia kesal mengapa hubungan kami tidak bisa sewajarnya seperti orang pada umumnya. Ia marah. Bukan padaku tapi pada keadaan. Aku masih memiliki status dengan perempuan lain. Karena itu pula kami tidak pernah pergi bersama menikmati waktu berdua di kota. Terlalu riskan.
“Itu alasan mengapa kamu ingin kita berciuman diantara hujan turun? Karena kamu ingin hujan yang membasahi bibir kita pada ciuman terakhir. Bukan air mata.”
“Kamu tahu keinginanku,” ia mengangguk. Pandangannya kosong.
“Hmm.. Aku juga sangat ingin. Ingin sekali. Tapi hujan tidak akan turun hari ini.”
“Itulah..” ujarnya lemas.
“Jadi.. tak perlu ada ciuman terakhir?” tanyaku sambil meliriknya.
“Umm.. Terserah kamu.”
“Kita tunggu setengah jam lagi.” pintaku penuh harap.
“Lalu kamu akan berdoa selama itu untuk meminta hujan turun dari langit?”
“Mungkin.. Tapi lebih baik kita tunggu. Lihat, angin mulai berhembus cepat diatas sana. Mungkin sebentar lagi langit jadi gelap dan turun hujan.”
Ia menatap langit sambil berkata, “kamu terlalu berharap.”
“Bukan. Aku hanya berusaha memenuhi keinginanmu.”
“Dengan harapan?”
“Hahaha..” Aku tertawa mendengar ucapannya yang terdengar pesimis dan skeptis. “Tapi tidak ada salahnya kan kita menunggu. Setuju..?”
Ia menoleh ke arahku lalu tersenyum, “okey..”
***

Biasanya kami pergi ke tempat ini dengan mobilnya. Jika hujan turun kami duduk di dalam mobil sambil ngobrol dan mendengarkan musik jazz atau pop romance. Kami bicara apa saja. Tentang hidup, tentang mimpi-mimpi masa depan, tentang buku-buku yang kami baca, tentang perjalanan karir orang-orang besar, dan juga.. tentang cinta.
Kami sama-sama mencintai hujan. Entah mengapa sejak SMP dulu hingga usiaku dewasa kini aku selalu jatuh cinta di musim hujan. Selalu.. Begitu pula ia. Sejak SMA ia juga sering jatuh cinta pada musim hujan.

Sama seperti cinta kami. Mengada dan tumbuh di musim hujan. Ohh.. Hujan.. Entah mengapa bisa seperti itu. Mungkin suasana musim hujan yang dingin dan basah membuat perasaan kami menjadi melankoli.

Seperti yang sudah-sudah jika kami pergi ke tempat ini selalu hujan. Ya, memang itu yang kami cari di sini karena di kota belum tentu hujan meski telah tiba musimnya. Kami selalu menikmati pembicaraan kami di dalam mobil. Kaca mobil kuturunkan sedikit agar udara tetap masuk dan tidak pengap. Jika kaca mobil mulai berembun ia menuliskan sebaris puisi disana dengan jari lentiknya. Aku sering tidak bisa berkata-kata saat membaca puisi-puisi itu. Ungkapan hatinya teramat jujur. Kata-katanya indah dan menggetarkan jiwaku.

Kalau sedang ingin merokok, kuajaknya berlarian menembus hujan menuju warung kopi biasanya. Kami tidak pernah menggunakan payung. Hujan adalah jiwaku, jiwanya, jiwa kami.
Ia biasa memesan teh poci yang disajikan dengan gula batu. Dan aku selalu minta kopi panas kental dengan sedikit gula. Gorengan tempe tepung dan tahu isi yang baru selesai diangkat dari wajan menjadi camilan lezat menemani obrolan sore yang hangat dan tawa kami yang lepas. Duduk di warung kopi memang tidak ada musik yang mengiringi obrolan kami seperti di mobil. Tapi suara rintik hujan yang riuh menjatuhi atap warung dan pepohonan, serta petir yang sesekali menggelegar berpadu menjadi irama alam yang sungguh harmoni.

Kali ini ia mengajaku ke tempat ini naik motor. Ia bilang ingin merasakan kabut dingin menerpa kulit wajahya. Padahal kalau naik mobil dan hujan sudah reda ia juga sering membuka kaca mobil lalu mengeluarkan kepalanya sedikit hanya untuk menikmati kabut dingin yang lembab. Aku sering geleng-geleng melihat kelakuannya itu sambil menyetir dan menghisap rokokku. Ahh.. Ia memang unik.
***

Angin bergerak semakin cepat. Awan hitam bergerak mengumpul seolah memenuhi panggilan. Burung-burung liar mulai beterbangan sibuk kembali ke sarang untuk berlindung. Di sampingku, ia menengadah. Menenggak air mineral dari botol plastik sambil menatap perubahan warna langit.
“Doamu tampaknya terkabul.” Katanya sambil tersenyum mengejek dan mengusap bibirnya yang basah dengan tangan.
Aku ingin tertawa mendengarnya ejekannya tapi aku tahan. “Kamu kan yang ingin..” Aku berusaha mengelak.
“Kamu juga kan?” Ia membalas dengan pertanyaaan retoris.
“Dasar wanita! Kamu yang pertama kali menyebut-nyebut hujan..!”
“Tapi siapa yang meminta waktu setengah jam..?!” kini ia yang mengelak sambil menahan tawa.
“Aku.. tapi kamu mau..” ujarku menawarkan win-win solution.
Kami saling melirik lalu tak kuasa menahan tawa. “hahahahaaa..” kami tertawa bersama.
***

Langit semakin gelap menghitam. Hawa dingin semakin kental.. Tapi gerimis pun belum. Petir juga tidak terdengar. Sementara angin bukit yang dingin berhembus semakin kencang membuat dahan-dahan pinus bergoyang dan menerpa rambutnya yang lurus dan hitam. Ia menatap ke atas langit sambil mengaitkan rambutnya ke belakang kuping.
“Kita sudah tiga perempat jam disini. Mendung.. Tapi tidak juga turun hujan. Kita pulang saja.” Ia berdiri segera.
Aku ikut berdiri, “kamu menyerah..?” kutatap wajahnya.
“Entahlah. Tapi..”
“Tapi apa..?”
Ia diam. Menatap langit lagi sejenak. Lalu segera menundukkan kepalanya sambil membuang nafas kecewa.
Aku mendekatinya. Melingkarkan tanganku di pinggangnya, memeluknya dari belakang. Tak lama ia membalikkan badan dan menatap mataku dengan ekspresi yang lugu. Beberapa saat kami saling menatap. Tanpa kata-kata.
Aku mengusap pipinya dengan lembut. Lalu ia menutup matanya. Aku bingung. Haruskah aku menciumnya..? Aku tak perlu bertanya apakah dia mengijinkan atau tidak? Ini bukan kali pertama aku menciumnya. Tapi akan menjadi yang terakhir..
Ia masih menutup matanya dan berdiri tenang di depanku. Aku melihat langit. Memang sudah gelap, tapi tak kunjung menurunkan hujan.

Kupandangi bibir mungil dihadapanku yang terpoles lip gloss merah muda. Begitu lembut dan indah.
Ahh.. Aku menyerah! Tak perlu hujan jika memang tidak hujan. Tapi ciuman terakhir, mungkin memang perlu untuk menjadi kenangan sekaligus sebagai tanda perpisahan.
Akhirnya aku memeluknya lebih erat. Kucium bibirnya. Dia membalas.. Kedua tangannya melingkar di leherku. Bibir kami berpagut.. Tak lama, ia menarik kepalaku dengan tangan kirinya. Bibir kami semakin lekat. Dan ciuman kami semakin hangat.
***

Usai berciuman aku melonggarkan pelukanku di pinggangnya. Perlahan ia membuka matanya. Lalu menatapku dengan lugu. Kami saling menatap. Tidak ada percakapan. Tapi hati kami saling berbicara. Bibirnya yang tipis dan merah itu masih sedikit basah. Aku mengusapnya pelan dengan ibu jariku. Ia hanya terdiam dan menatap mataku dengan sungguh-sungguh.

sasa-rain1.jpgAku tersenyum kemudian mencium keningnya dengan lembut. Ia tersenyum juga. Lalu berpisik pelan di telingaku,
“Thanks..” Katanya sambil mengerlingkan mata kirinya.
“Thanks juga yah..” Balasku. Ia mengangguk. Mencium pipiku. Dan mengambil tas putihnya di atas rumput. Aku melepas pelukan. Kami berjalan pulang.
***

Ia berjalan pelan di depanku. Sesekali ia menari-nari dengan riang dan manja. Aku tersenyum melihatnya. Ia tampak bahagia. Kami menyusuri jalan setapak yang kanan-kirinya ditumbuhi rumput-rumput hijau, menuju tempatku memarkir motor. Tidak jauh. Beberapa menit lagi kami sampai.

Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bahkan teramat familiar. Butir-butir air jatuh dari langit. Menjatuhi daun-daun, rerumputan, dan dahan-dahan pohon. Mulanya sedikit. Hanya gerimis. Namun lama-lama semakin banyak dan semakin deras. Kami tidak mempercepat langkah, tapi justru melambat.

Dia menghentikan langkah.. Aku juga.
“So.. How..?” tanyaku santai.
“Rain has fallin now..” ia menjawab sambil tersenyum manja.
“So..?” tanyaku lagi.
Ia melempar tas putihnya ke atas rumput. Memelukku sangat erat. Menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.
Aku lemas.. Jantungku berdegup teramat cepat. Aku membalas pelukannya. Rambut kami mulai basah oleh rintik hujan yang kerap. Kututupi rambutnya dengan tanganku. Melindunginya dari air-air yang jatuh semakin deras. Ia kemudian menarik kepalanya dari bahuku.
“Kenapa..?” tanyaku.
“Deras banget hujannya..” jawabnya sambil menyipitkan mata karena air hujan mulai mengganggu pandangannya.
Hujan dengan cepat telah berhasil membuat seluruh baju kami menjadi sangat basah. Tak terkecuali jeans yang kami pakai. Aku tempelkan tanganku di keningnya menyerupai topi. Aku tersenyum melihat mukanya yang lucu. Dia juga tersenyum.
“Aku punya topi baru..” katanya.
“Hahaha.. Kamu selalu lucu.”
Dia tersenyum lagi. Menatapku sebentar dengan manja dan lugu. Lalu memejamkan mata. Bibirnya yang lembut tampak basah oleh air hujan. Aku mencium bibirnya. Pelukan kami semakin erat. Sangat erat. Seolah tak ingin terlepas lagi. Saling mendekap. Hangat. Pelukan terakhir.

f_rain1m_e5bff66.jpg

Tubuh kami kedinginan dan hampir menggigil. Tapi bibir kami hangat. Ada energi, hasrat dan cinta yang terbagi disana.
Air hujan membasahi wajah kami. Mengalir melalui kening, turun ke alis mata, hidung, pipi, dan bibir kami. Lalu jatuh ke tanah melalui dagu kami.
Cukup lama kami berciuman. Bibir kami lekat. Sangat lekat. Sangat dalam. Ciuman terakhir.
***

Langit masih gelap dan sesekali kilat muncul diantara gumpalan-gumpalan awan hitam. Tapi hujan perlahan mereda. Sepanjang jalan pulang kami bercanda. Di atas motorku yang meluncur pelan menuruni aspal basah berkelok-kelok. Menembus kabut yang turun. Hawa dingin masuk melalui pori-pori baju kami yang basah dan berhasil mendarat di permukaan kulit.

rain3401.jpg

Jariku yang tanpa pelindung apapun hampir kaku memegang setang motor. Bibirku terasa beku dan gigiku terkadang bersinggungan mulai bergemeletak. Ia mengerti aku benar-benar kedinginan diserbu hawa bukit dan angin dari laju motorku. Ia memeluk punggungku dengan erat, menyandarkan kepalanya ke pundakku dan memasukkan kedua tangannya ke saku jaketku. Kami benar-benar kedinginan. Sangat dingin. Tepatnya kami merasa hampir beku. Tapi.. jiwa kami terhangatkan oleh cinta. Cinta yang harus kami akhiri hari ini dengan bijaksana. Dan tentu saja.. dengan senyum.

Tabik!

-refanidea-

Advertisements

10 responses

  1. anto

    so real…

    kenapa tasnya putih fan? this detailed description makes it so real… hehehehe…

    Like

    Monday, July 7 , 2008 at 2:56 pm

  2. ilustrasi fotonya bagus. tulisannya juga cukup deskriptif. jadi berasa bisa muter film di kepala (non literally, of course 😛 )

    Ifan: Oelpha, pinjem pilmnya doong.. hehe.. 🙂

    Like

    Saturday, August 9 , 2008 at 11:01 am

  3. Wah ini gaya pacarannya anak sekarang ya? Mas ifan itu di ceritanya si cowoknya mendua ya? Ok deh thanks and terus berkarya. Salam Yulis

    Ifan: ya begitulah anak muda sekarang mbak.. saya dulu nggak gitu loh mbak waktu muda..
    [hihihi.. pasti temen saya ada yang emosi nih, kekekek..]

    si cowo di cerita itu memang mendua. untung ga mentega ya mba’.. kalo mentega kan lengket pas dicium.. 😀

    omong2, mbak yulis dulu pacarannya ama om bule gimana..? [mancing neh..] 😉

    Like

    Saturday, August 9 , 2008 at 9:06 pm

  4. Pacarannya orang tua Fan nggak menarik kalau diceritakan. He he he

    untung cuman mendua kalau Mentimun nanti di curi si anak nakal “Sikancil”. Thanks

    Like

    Saturday, August 9 , 2008 at 10:19 pm

  5. lam kenaL, Bro…’cogito ergo sum’-nya cooL…!!
    cerpen-nya juga! inspiratif!
    seperti ‘hujan’ dalam “kita mencintai hujan”…
    go on in writing, Bro…c.u.

    Ifan: siaap..! 😉

    Like

    Sunday, August 10 , 2008 at 12:19 am

  6. Jahhhhhhh………….ini mah kisah nyata…saia saksi hidup atas kejadian ini=))

    Like

    Wednesday, August 13 , 2008 at 12:02 am

  7. senyum memang bisa menghangatkan jiwa

    Like

    Wednesday, August 13 , 2008 at 5:44 pm

  8. sHane

    kenyataan dalam khayalan..
    khayalan yang jadi kenyataan..

    momen yg ga mungkin bisa dilupain..
    ^^

    orang nganggep hal ini cerita yang diinginkan untuk jadi kenyataan..
    tpi disisi abang, ini adalah kenyataan yang jadi cerita buat semua orang
    ^^

    jadi pengen ngerasain momen momen kaya gtu..

    thanks bang!
    satu lagi dari sisi kehidupan orang yang jadi
    tambahan di ensiklopedi wawasanku bang..
    hhe..

    saking takjubnya abang mainin suasana jadi ga bisa ngasi komentar apa apa (???)
    haha..

    there’s something new waiting for you in the future..
    let the good times roll..
    ^^

    Ifan: ini cuma khayalan kok.. beneran..
    [mbo’ geledah kalo nggak percaya..]

    Like

    Thursday, September 25 , 2008 at 7:14 pm

  9. kereenn bgt…
    salut dhe…

    Like

    Saturday, November 29 , 2008 at 10:20 am

  10. tika

    cantik..

    Like

    Monday, May 7 , 2012 at 11:21 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s