2014 Jakarta Bebas Topeng Monyet


“Jakarta Bebas Topeng Monyet” seharusnya sudah sejak dulu. Sejak Sutiyoso atau Foke. Topeng monyet mungkin bukan topik yang lebih besar dan populer dibandingkan mengatasi kemacetan, merealisasikan MRT, Monorail, dan mengendalikan banjir. Topeng monyet juga mungkin tak penting bagi warga Jakarta yang melintas dengan nyaman di dalam mobil ber-AC dingin dan musik berkelas. Topeng monyet mungkin telah dipandang sebagai hiburan kelas rendah, jauh lebih rendah dari Java Jazz atau Djakarta Warehouse Project.

Tapi kepemimpinan Jokowi & Ahok memang tak hendak memimpin Jakarta demi kepentingan popularitas, elektabilitas, pemilu 2014, atau partai. Mereka memang ingin Jakarta berubah. Karena itu Topeng Monyet menjadi penting bagi mereka. Penting karena dari sudut pandang hak kebinatangan, monyet-monyet itu dilatih dengan sadis, tidak diberi makan sampai bisa melakukan gerakan tertentu, dipukul jika salah, juga dicambuk. Monyet-monyet itu berhak mendapatkan kembali kebebasannya. Bahwa di kebun binatang monyet juga dipertontonkan (dan bisa saja kita bilang motifnya tetap saja bisnis) tapi di kebun binatang mereka dipelihara dengan baik, makanan cukup, dan diberi tempat tinggal yang baik. Adil dan setimpal.

Perkara pelarangan hiburan Topeng Monyet sesungguhnya bentuk dorongan baru bagi kesadaran kita semua untuk lebih peka terhadap lingkungan. Sensitifitas sejenis ini mungkin tidak mati, tapi perlu dibangkitkan kembali. Jakarta menjadi eksklusif, menganggap hanya perlu peduli pada gelaran bertajuk ‘kebudayaan berkelas’ tapi kemudian menganggap remeh topik-topik sosial-lingkungan.

Kenapa era Jokowi yang melakukan ini, kenapa ia menganggap penting nasib monyet-monyet itu, karena Jokowi & Ahok ingin menyembuhkan kesakitan fisik dan mental Jakarta, ingin kesadaran-kepekaan sosial lingkungan warga Jakarta bangkit kembali.

Dulu, Sutiyoso & Foke lebih mementingkan persetujuan-persetujuan berdirinya real estate dan pusat perbelanjaan. Hingga Jakarta mendapat julukan kota dengan Mal terbanyak di dunia. Jiwa mereka adalah jiwa transaksional. Kepekaan kehidupan sosial mereka telah ditukar murah dengan ego perekonomian yang angkuh dan rakus.

Tapi warga Jakarta ternyata telah letih menjadi rakus. Jakarta merasa perlu energi dan semangat baru. Itu sebabnya Jakarta memilih Jokowi & Ahok. Pada keduanya Jakarta meletakkan harapan. Ya, “harapan”.. Sebuah kata yang harus dimiliki oleh tiap pejuang perubahan.

Advertisements

2 responses

  1. Reblogged this on #BeTheChange You Wish To See In The World.

    Like

    Monday, December 16 , 2013 at 6:35 pm

  2. Kenapa era Jokowi yang melakukan ini, kenapa ia menganggap penting nasib monyet-monyet itu, karena Jokowi & Ahok ingin menyembuhkan kesakitan fisik dan mental Jakarta, ingin kesadaran-kepekaan sosial lingkungan warga Jakarta bangkit kembali. « JLEB

    Like

    Monday, December 16 , 2013 at 6:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s