kedewasaan berjejaring sosial


Tingkat kedewasaan di dunia nyata dan kematangan di ranah media sosial mungkin tidak jauh berbeda. Usia boleh banyak, main internet mungkin sejak jaman mIRC, myspace, Friendster, tapi kalau kedewasaannya rendah, di dunia maya juga relatif rendah.
Ani Yudhoyono seumur tante saya, di Instagram dia bisa ngamuk-ngamuk. Usia dia nggak muda, masa bermain di media sosial masih belia. Tapi emosi nggak matang, seperti remaja tanggung.
Internet telah lama memberikan kesempatan kita untuk berdiskusi, berdebat, berbeda pendapat. Mulai dari pendapat santun hingga nyinyir seperti tokoh antagonis sinetron.
Kalau nggak siap berbeda pendapat, tutup aja akun media sosialnya.
Dari segi teknologi orang boleh melek dan nggak gaptek. Tapi melek teknologi tak selalu diikuti dengan kedewasaan sikap. Istilahnya gagap budaya.
Di ranah media sosial misalnya, dulu kita sering terganggu dengan tag di Facebook pada foto-foto yang tidak ada kaitannya dengan kita secara langsung. Tiap ada satu komentar di foto itu, notifikasi muncul. Untungnya kemudian kita bisa melepas tag di Facebook jika kita merasa terganggu. Sekarang, Path juga memungkinkan kita mendapatkan tag atau mention karena kawan kita memasukkan nama kita dalam daftar “I’m with”. Tapi kita nggak bisa melepas tag itu. Tiap ada komentar, muncul notifikasi. Bagi yang belum matang di ranah media sosial, melakukan tag pada banyak teman untuk menyatakan ucapan tertentu misalnya “selamat merayakan hari besar keagamaan”, malah jadi mengganggu. Pertama, ucapan itu kesannya tidak personal karena terkesan seperti broadcast message di BBM. Kedua, siapapun yang menanggapi akan memunculkan notifikasi pada semua orang yang menjadi bagian dari tag.
Twitter untungnya dibatasi 140 karakter. Mention jadi terbatas. Bayangkan jika tak dibatasi, mungkin mention puluhan orang jadi terlalu mudah.
Aturan-aturan di ranah media sosial tak semuanya baku dan tertulis dengan jelas. Aturan itu disebut etika.
Melakukan tag pada banyak orang untuk menyampaikan ucapan umum, bisa jadi termasuk dalam pelanggaran etika karena memberika rasa tidak nyaman dengan notifikasi yang muncul setiap ada tanggapan.
Agar matang di ranah media sosial, kita harus terus menggunakannya, merasakan lingkungannya, agar memahami etika-etika di dalamnya. Di dunia yang sesungguhnya kedewasaan tidak diterima begitu saja tetapi diupayakan dengan mencoba, ditempa, diuji oleh berbagai persoalan. Begitu pula di ranah media sosial kematangan tidak diperoleh tiba-tiba, tapi ada karena kita mencoba dan merasakan aturan-etika yang berlaku di sana.
Selamat berjejaring sosial, semoga kita menjadi manusia berkepribadian matang di dunia nyata dan maya. 🙂

https://refanidea.com

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s