Tjokroaminoto – Sebuah Film Bagus oleh Garin Nugroho
Kawan-kawan, mungkin Fast and Furious, Avengers, sedang diburu untuk ditonton. Tapi kalau sempet cobalah nonton Tjokroaminoto yang dibikin Garin Nugroho.
Tentang Ahmad Dhani dan baju Nazi
Glenn Fredly lewat akun twitternya mengkritik Ahmad Dhani, demikian juga Sarah Sechan dan Anggun. Ahmad Dhani dikritik karena mengenakan baju Nazi dalam salah satu video kampanye capres.
Kita tak perlu terjebak pada persoalan simbolis. FPI itu jelas sekali pakai atribut “islam” dari segi nama. Baju FPI pun bertema timur tengah. FPI tetap jalan..
Baju itu sekedar atribut!
Bangsa maju adalah bangsa yang substantif, bukan simbolis. Sikap & perilaku nyata, bukan atribut! Menilai karakter dan pemikiran orang dari fashion atau atribut bisa keliru, apalagi kemudian menjustifikasi Ahmad Dhani seorang fasis. Salah satu alasan yang mungkin tentang motif Ahmad Dhani adalah anaknya pernah mengemudi dan menabrak. Sama dengan kisah anak Hatta Rajasa.
Anak punk pakai atribut Nazi, boleh kan?
Anak band pakai kaos Che Guevara atau palu-arit boleh kan?
Jokowi juga pakai baju kotak-kotak macam anak grunge era 90-an asik juga.
Sekarang coba kita telaah, baju koko itu budaya Arab? Bukan! Itu budaya China.
Kalau laki-laki sholat Jumat pakai baju koko, itu tidak berarti dia terkesan Timur Tengah atau lebih religius. Saya pernah sholat Jumat dan sebelah saya pria dengan tindik di kedua telinga dan tato di lengannya. Dia berdoa dan berdzikir lebih lama dari saya yang pakai sarung dan kemeja koko.
Saya nggak mendukung Prabowo dan nggak selera pada sosok Ahmad Dhani –meski mengakui bahwa kemampuan musikalitasnya dan kecerdasannya dalam industri musik sangat hebat. Saya lebih suka Glenn Fredly secara sosok dan karya, begitu juga mengagumi kehebatan Anggun dalam menyanyi atau Sarah Sechan dalam menjadi presenter. Tapi dalam hal kritik tentang busana, Glenn, Anggun, dan Sarah Sechan sebaiknya bisa melihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Ayolah.. mari bergerak maju, dunia ini terlalu sempit untuk berpikir kerdil.
Gambir, Senja, dan Peristiwa..
Bapak-ibunya kerja jadi pemulung di bilangan Manggarai. Dari Senin hingga Jumat lelaki yang menyemir sepatu saya ini cari uang di Stasiun Gambir. Dulu ia mengemis seperti teman-temannya yang menatapnya dengan heran karena duduk di depan saya, di warung tempat saya makan sore itu.
Lalu lelaki kecil di depan saya ini bercerita bahwa ia lebih beruntung dibandingkan Hasan, temannya. Hasan dipukuli orang tuanya kalau pulang tidak bawa uang.
Di stasiun Gambir, dulu ia sering dikejar oleh petugas keamanan. Namun sejak ia tak lagi mengemis dan beralih menjadi penyemir sepatu, ia justru bisa dengan bebas berputar-putar di stasiun. Pemilik warung makan di stasiun pernah menegur dan memarahi petugas keamanan yang mengusirnya untuk pergi dari area stasiun. Menurut pemilik warung, banyak pembeli di warungnya yang menanyakan penyemir sepatu. Karena lelaki kecil ini tidak mengganggu pembeli yang jajan di warung makan seperti anak-anak lain yang mengemis, pemilik warung menyukai keberadaannya.
Ia kini duduk di bangku SDN Gondangdia, kelas 5. Uang hasil nyemir sepatu ia serahkan ke orang tuanya. Untuk beli beras, belikan jajan untuk adiknya yang masih 5 tahun, untuk beli sepatu, beli seragam, dan lainnya. Waktu saya tanya berapa biaya sekolahnya, ia jawab, “gratis om.. sekolah nggak bayar. Buku-buku juga dipinjemin sekolah..”
“Kenapa nyemir sepatu? Temen-temen lo pada ngemis, kenapa lo milih nyemir sepatu?”
“Kalau nyemir uangnya halal, Om..”
Dada saya sesak mendengar kalimatnya.. Halal.. (more…)
Kloset dan Puisi
Ada sebuah momentum yang menyebabkan saya menjadi semakin tertarik dengan puisi. Tahun 2004, saya, kakak, dan adik, dolan ke Gramedia. Saya masih ingat, adik saya beli buku “Sheila” Torey Hayden, saya beli “Imipramine” Nova Riyanti Yusuf, kakak saya beli “Biola Tak Berdawai”, novel yang ditulis Seno Gumira Ajidarma -berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara, dan sebuah buku kumpulan puisi “Renungan Kloset” karya Rieke Diah Pitaloka. Kelak, bertukarbaca-lah kami bertiga.
Terus terang semua buku itu menarik dan meluaskan cakrawala berpikir kami. Tapi sekarang, saya sedang ingin mengupas buku Rieke. Perempuan kelahiran Garut 9 Januari 1974 ini memang tak awam soal sastra. Rieke lulusan Sastra Belanda Universitas Indonesia dan melanjutkan studinya di Program Pasca Sarjana Ilmu Filsafat di universitas yang sama.
Rieke menulis puisi dengan gaya feminis, nakal, dan kritis. Dia mengangkat tema sosial, politik, gender, dan tentu saja cinta.
Hmm.. Cinta barangkali memang tak pernah lepas dari puisi, atau sebaliknya..? Entah.. pastinya puisi cinta bikinan Rieke tak melulu bertutur tentang cinta dalam sudut pandang sempit -lelaki dan perempuan, tapi lebih dari itu, ia menulis cinta yang luas, universal.
Rasanya aneh kalau saya ngomongin buku Rieke tanpa memuat isinya di sini. Nanti saya dikira sok tahu soal sastra. Ingat, saya penikmat, bukan pakar. Jadi nanti saya sertakan pula komentar pakar supaya anda percaya bahwa puisi Rieke tak hanya dikomentari oleh saya. Hehe.. Sekarang kita simak dulu puisi-puisinya..
When You Pray, Move Your Feet
“..are you ready to change the way you live?..”
“..the climate crisis can be solved..”
“..vote for leaders who pledge to solve this crisis..”
“.. join international efforts to stop global warming..”
“..if you believe in prayer, pray that people will find the strengh to change..”
“..in the words at the old african proverb, ‘when you pray, move your feet‘..'”
– An Inconvenient Truth [movie] –
Global Warming Sebagai Trend
Dua kata, “Pemanasan Global”, kini begitu sering kita dengar. Entah siapa persisnya yang memulai, tapi sekarang anak-anak muda di berbagai belahan dunia bersama-sama menyuarakan isu ini melalui berbagai media. Media massa baik cetak, elektronik, dan internet, turut mendukung kampanye “Stop Global Warming” lewat cara dan gayanya masing-masing. Global Warming tidak hanya sebuah isu, melainkan mampu menjadi tren di kalangan anak muda. Siapa yang tidak aware pada global warming dianggap tidak mengikuti tren.
Film “An Inconvenient Truth” mungkin memang memberi pengaruh besar dan signifikan pada penontonnya. Film dokumenter ini menggugah [lagi] dan menyadarkan [kembali] manusia akan pentingnya bersikap bijak dan peduli pada alam-semesta. Saya katakan “menggugah – lagi” dan “menyadarkan – kembali”, karena manusia sebenarnya memiliki pemahaman alamiah mengenai hukum kausalitas alam –tapi memilih untuk tidak peduli lagi.
99 Most Powerful Women
Ada tema menarik dari Majalah Globe Asia yang saya beli hampir setahun lalu. Untungnya masih ada di tumpukan majalah dan akhirnya saya baca lagi. Setahun yang lalu saya belum tahu kalau ada majalah bernama Globe Asia, sampai suatu hari muncul iklannya di sebuah koran harian dengan warna dan desain yang menarik, dan tentu saja tema yang membuat alis saya berkerut dan kelopak mata membesar: 99 Most Powerful Women.
Majalah Globe Asia edisi Oktober 2007 -terbit tiap bulan- akhirnya saya buru ke toko buku. Curangnya, harga jual majalah ini persis sesuai banderol Rp. 35.000,- padahal toko buku itu terkenal dengan harga mahasiswa, diskon 10-25%. Tapi setelah selesai membaca artikel-artikel yang menarik dan membuka sampai halaman terakhir, baru saya maklum. Oh, wajar kalau harganya 35 ribu, karena majalah ini terbit dengan bahasa Inggris dengan jumlah halaman per edisi kurang lebih 182 full-color.
Sekilas saya paparkan orang-orang di balik meja yang mengurus majalah ini. Di bawah bendera Globe Media Group dengan tag line “Powerhouse For Enterpreneurship”, tersebutlah nama Rizal Ramli sebagai Executive Chairman, Tanri Abeng sebagai Publisher, Editor In Chief S.K. Zainudin, dan lainnya.
Pada Editor’s Note, S.K. Zainudin menulis, “it will come as little surprise to most readers that our pick for the top spot is former president Megawati Soekarnoputri given the fact that she still heads the second largest political party in the country and has just announced her decision to make another run for president. The decision to put her at the top of the list, however, was not taken lighlty and was made after many hours of deliberation given the quality and intellectual heft of the other candidates.”
Opini Terakhir