Uncategorized

jakarta lebih dari sekedar janji bernuansa moral

Surabaya
Risma menutup Dolli karena lokasinya dekat dengan masyarakat terutama anak-anak. Dengan pertimbangan itu dia bermaksud menjauhkan prostitusi agar tidak dianggap sebagai sebuah kewajaran atau bahkan dianggap sebagai suatu jenis pekerjaan legal yang sesuai norma-kaidah tertentu.
Risma pasti tahu ada banyak tempat prostitusi berjudul pijat, spa, hotel, karaoke, di Surabaya. Risma juga pasti tahu nilai pendapatan pajak dari jenis bisnis itu.
Risma tahu konsep lokalisasi: memindahkan, meniadakan, atau mengelompokkan suatu jenis bisnis ke dalam satu area. 
Risma tidak membidik tempat prostitusi premium dan bermodal besar yang sanggup membayar sewa ruang gedung atau memiliki gedung sendiri. Risma tahu, takkan pernah bisa bisnis itu hilang itu dari kotanya. Hampir di seluruh kota besar di Indonesia punya tempat prostitusi, bisa terselubung atau tersamar. Risma tahu..

Jakarta

Menata jakarta tak cuma soal moral. 

Bukan cuma tentang memenuhi janji nutup tempat prostitusi ikonik, karena (barangkali) tempat lainnya yang tak seikonik itu akan dibiarkan tetap ada. 
Kota besar ‘selalu’ membutuhkan dunia malam dan pendapatan besar dari bisnis sejenis itu. Entah pendapatan legal yang masuk ke kas daerah atau pendapatan ‘setoran keamanan’.
Jakarta lebih kompleks dari sekedar janji bernuansa moral. 
Lingkungan Tanah Abang sempat rapi, tapi menjadi chaos lagi sejak mantan gubernurnya dipenjara.
Lantai jembatan penyeberangan Transjakarta rapuh, baut-bautnya goyang. orang bisa kejeblos, terperosok, dari ketinggian 2-10 meter.
KRL & Transjakarta selalu chaos tiap hari. Rasio antara jumlah penumpang dan armada nggak imbang. Layanan publik ini lebih penting dari pada urusan prostitusi dibuka atau ditutup!
Menata jakarta tak cuma soal moral atau agama. Singapore ditata dengan aturan yang keras, pantauan CCTV 24 jam, dan keseimbangan antara besaran pajak & layanan publik. Barangkali di sana orang lebih takut didenda atau dipenjara dari pada takut dihukum Tuhannya. Faktanya, tata pemerintahan dan aturan bisa menjadikan orang tertib apapun agamanya.
Menata jakarta tak cuma soal janji bermuansa moral..

Berhentilah menagih kalimat lama sejenis ini: “nutup alexis, hentikan reklamasi”, apalagi “DP nol persen”.
Politik selalu menawarkan harapan agar politisi terpilih. Tapi itu bukan janji.. itu gimmick, rayuan. 
Memilih dia atau tidak, kalau mencari rejeki di jakarta maka bersikap kritislah. Bantu jakarta jadi lebih baik, minimal jangan merusak.
Buang sampah di tempatnya, patuhi aturan lalu lintas, mengemudilah dengan santun, bantu orang yang berpenghasilan lebih rendah, berhentilah sebelum zebra cross karena ada hak orang lain di sana, mengalahlah pada perempuan hamil dan lansia di kendaraan umum, mulailah mendengar dan berhentilah menilai.
Bro, menata jakarta lebih rumit dari sekedar janji bernuansa moral. 
http://refanidea.com

Advertisements

risiko potong rambut 

suatu hari di tempat potong rambut lelaki,

seorang yang dipotong rambutnya ceramah panjang lebar tentang perpesktif agama yang konservatif, introvert, dengan gaya bahasa dan intonasi menggurui. 
tiap pemotong rambut menyampaikan pendapat lain, penceramah membalas, mematahkan, menyalahkan.
misal, katanya, TV lebih banyak mudharat dari pada manfaatnya. tapi sepanjang ceramahnya dia kritik & menyalahkan semua orang yang berdakwah lewat youtube. baginya dakwah adalah majelis, datang tatap muka di majelis. bukan youtube, anggapnya remeh.
pikiran penceramah ini nggak lengkap, kurang akal. toh TV & youtube menampilkan visual yang sama: video. TV mudharat, tapi dia nonton youtube?
di ujungnya, si pemotong rambut merasa sebel. begitu selesai ia langsung menjauh. pemotong rambut diteriaki penceramah sambil tertawa, “eh kemana lu? mau dibayar nggak?!”
lelaki ‘paling benar’ itu beruntung.
beruntung karena pemotong rambut tak marah seperti tokoh di film psikopat, yang mungkin bisa menyayat lidah, kuping, atau bahkan lehernya dengan pisau cukur. sebuah ceramah lokal yang sangat berisiko!

😆😆😆
keimanan, barangkali adalah sikap rendah memandang diri sendiri terhadap Tuhan. mungkin dengan itu pula keimanan tak sempat menjadi sombong.


vonis 2 tahun 


mayoritas pemilih jakarta mengalahkan ahok di pilkada. tapi ahok menang di hati anak muda Indonesia. 
karena itu (barangkali) ahok divonis 2 tahun untuk menghambatnya di cawapres 2019 (2 tahun lagi). ahok berbahaya bagi wacana pasangan capres-cawapres: kalla-anies. 
tapi akan selalu ada ahok pada tiap harapan anak muda tentang perubahan. akan selalu ada risma, akan selalu ada ridwan kamil..!

Indonesia nggak perlu keajaiban, cuma perlu satu percikan semangat dari tiap anak muda di seluruh nusantara..!!

👊🏻😊 🇲🇨

refanidea.com


Ucapan Terdakwa Tak Memenuhi Unsur Niat


Koran Tempo 21 April 2017:
Ketua Tim Jaksa Penuntut, Ali Mukartono,

“Ucapan terdakwa tak memenuhi unsur niat”
“ucapan Ahok dianggap memantik permusuhan berlatar SARA sebagaimana dakwaan alternatif pas 156 Kitab UU Hukum Pidana. dengan terpenuhinya unsur tersebut, jaksa meminta hakim menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.”
Dirjen Otonomi Daerah, Sumarsono:

“Karena tuntutannya di bawah 5 tahun, Ahok tidak diberhentikan”
===

artinya, riziq & munarman fpi juga dapat dikenakan delik yang sama.


prediksiku untuk hasil pilkada 2 DKI meleset 6%


19 April 2017 jam 7.42 WIB aku bikin predisi.

semuanya meleset 6 persen.. 🤦🏻‍♂️


lingkar semanggi 


sementara begini..
jadi dari arah Polda Metro/SCBD, kita bisa naik jembatan lingkar langsung ke arah Bendungan Hilir/Bundaran HI tanpa harus turun semanggi. Kondisi saat ini kita harus belok kiri, turun dari jembatan Semanggi. Antrian turun ini membuat kepadatan di atas semanggi mengganggu kendaraan yang bermaksud lurus ke arah DPR. 
dari arah BPK/seberang Gedung DPR, kita bisa ke arah Ratu Plaza/Bundaran Senayan tanpa harus turun dari jembatan semanggi. Antrian turun ini membuat kepadatan di atas semanggi mengganggu kendaraan yang bermaksud lurus ke arah Mampang. 
*arus lingkaran searah jarum jam

refanidea.com


Seharusnya

seharusnya,

– semua pengerahan massa di tanggal-tanggal tertentu tiap bulan, harusnya tidak sia-sia.

– semua upaya hukum termasuk kesaksian lemah dari saksi-saksi, harusnya tidak sia-sia.

– semua afiliasi dengan ormas fundamentalis dan ‘ustad’ infotainment, harusnya tidak sia-sia.

– semua upaya mengangkat isu rasisme, selayaknya tidak sia-sia.

– upaya upaya melarang sholatkan jenazah yg keluarganya pilih calon bukan Islam, harusnya tidak sia-sia.

– upaya menggunakan rumah ibadah utk provokasi politik, harusnya tidak sia-sia.

– atas segala biaya itu harusnya tidak ada yang sia-sia.
dalam matematika politik seharusnya itu semua bisa sampai ke satu tujuan: menang. 

jika tidak berhasil memenangkan, maka itu sama sekali tidak menenangkan.

Rabu, 19 April 2017 | 11.49 WIB