Latest

lingkar semanggi 


sementara begini..
jadi dari arah Polda Metro/SCBD, kita bisa naik jembatan lingkar langsung ke arah Bendungan Hilir/Bundaran HI tanpa harus turun semanggi. Kondisi saat ini kita harus belok kiri, turun dari jembatan Semanggi. Antrian turun ini membuat kepadatan di atas semanggi mengganggu kendaraan yang bermaksud lurus ke arah DPR. 
dari arah BPK/seberang Gedung DPR, kita bisa ke arah Ratu Plaza/Bundaran Senayan tanpa harus turun dari jembatan semanggi. Antrian turun ini membuat kepadatan di atas semanggi mengganggu kendaraan yang bermaksud lurus ke arah Mampang. 
*arus lingkaran searah jarum jam

refanidea.com

Advertisements

Seharusnya

seharusnya,

– semua pengerahan massa di tanggal-tanggal tertentu tiap bulan, harusnya tidak sia-sia.

– semua upaya hukum termasuk kesaksian lemah dari saksi-saksi, harusnya tidak sia-sia.

– semua afiliasi dengan ormas fundamentalis dan ‘ustad’ infotainment, harusnya tidak sia-sia.

– semua upaya mengangkat isu rasisme, selayaknya tidak sia-sia.

– upaya upaya melarang sholatkan jenazah yg keluarganya pilih calon bukan Islam, harusnya tidak sia-sia.

– upaya menggunakan rumah ibadah utk provokasi politik, harusnya tidak sia-sia.

– atas segala biaya itu harusnya tidak ada yang sia-sia.
dalam matematika politik seharusnya itu semua bisa sampai ke satu tujuan: menang. 

jika tidak berhasil memenangkan, maka itu sama sekali tidak menenangkan.

Rabu, 19 April 2017 | 11.49 WIB

Jangan Kalah atau Mati

saudara perlu ingat,

– soekarno ditodong pistol untuk tanda tangan supersemar. kudeta pertama di negara merdeka ini dilakukan oleh soeharto

– wiji thukul hilang karena memimpin demo buruh di beberapa kota di jawa yang menjadi bagian dari rangkaian menuju reformasi 1998 

– munir aktivis HAM dibunuh di pesawat oleh anggota intelijen supaya berhenti mengusut kasus orang hilang & pelanggaran HAM

– antasari azhar mantan ketua KPK dipenjara dengan tuduhan membunuh karena persoalan wanita

– novel baswedan anggota KPK pernah ditabrak, kemudian disiram air keras supaya berhenti mengusut kasus korupsi

– ahok dituntut menista supaya berhenti memperbaiki tata pemerintahan & kota jakarta jadi lebih baik

hanya SEDIKIT ORANG yang berani membela keadilan ORANG BANYAK.

dan kita membiarkan mereka TERLUKA, KALAH, bahkan MATI. 

jangan jadi bangsa yang mau diperalat untuk kepentingan segelintir orang. kita diperalat, ditipu, lalu merasa menang. 

#hidupsekaliharusberani

Istirahatlah Kata-Kata

Kesalahan Wiji Thukul adalah karena dia membela ketidakadilan di masa Soeharto.
Seringkali idealisme & keberanian tak dimiliki mereka yg punya uang, takut jadi miskin. 
Tapi kalau kamu sudah miskin, maka apalagi yang ditakuti. Yang kamu miliki cuma keberanian.

-refanidea.com-

Aside

Debat Cagub Cawagub DKI nan Dangkal

ada, cagub yang bersikeras menolak penggusuran demi memenangi debat dan memenangi hati calon pemilih. bahkan membawa “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” sebagai landasan berpikirnya. siapapun, fakir atau kaya, tak berhak menghuni bantaran kali, mpok!
salah satu ‘kedangkalan’ semalam adalah saat berbicara penggusuran bantaran kali yang merupakan hak publik/hak negara. area itu harus bebas dari hak milik dan kepentingan individu. ada kepentingan yang lebih besar: kepentingan publik.
pada debat cagub & wagub semalam kita menyaksikan,
orang yang tak terbiasa menghadapi massa majemuk, tak terbiasa menghadapi pertanyaan & jawaban yang tak terencana, tampak ingin memenangi debat dengan argumen-argumen yang lemah.
orang yang terbiasa menghadapi massa majemuk, biasa membangun konsep untuk memberikan solusi konkrit, tampak rileks dan punya argumen kuat yang logis.
debat semalam lebih dari soal kita punya hak pilih Pilkada DKI atau bukan. debat semalam menunjukkan bahwa,
anda bisa berdebat dengan perasaan menang tapi sesungguhnya di mata penonton anda tampak dangkal, atau anda bisa berdebat dengan mengedepankan logika kuat dan penonton tahu anda dalam.

refanidea.com

karena sebelumnya kita adalah warga yang santun, rukun, dan beretika

sebelumnya, kita tak pernah begitu tajam dengan kata-kata apalagi soal agama. sekarang politik menggunakan agama sebagai senjata.
politik selalu minta dibela dengan sukarela. kemudian menghasilkan kemenangan dan uang di sisi lain. kesukarelaan kita, kadang terlupa begitu saja oleh mereka.
sayang sekali harus ada yang mengomentari ayat suatu kitab di luar kapasitasnya. sayang sekali harus ada kemarahan yang massif.
organisasi massa, tokoh agama, tokoh politik, menggunakan momentum ini, saling berlomba mencari simpati. berlomba menempatkan diri di satu kubu dengan harapan bisa ikut menikmati kekuasaan atau oposisi.
atas semua perdebatan dan perbedaan pendapat, kita tahu kemenangan dalam politik adalah kemenangan demokrasi bagi pemilik suara, bagi kontestan yang menang, atau kekalahan idealisme bagi yang cukup idealis, tapi ia lebih soal kekalahan finansial bagi penyandang dana.
di ujung semua pesta politik dan pesta pemilihan, kita hanya ingin kondisi yang aman, desa & kota yang tertata rapi, dan adanya keadilan bagi semua pihak dalam konsep yang sederhana.
tapi kita harus ingat, politik selalu mengandung unsur sementara: tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan sejati. dengan itu, tak perlu perdebatan yang terlalu sengit soal politik atau agama. karena sebelumnya kita adalah warga yang santun, rukun, dan beretika.

http://refanidea.com

@ifanidea

Ayat Mayoritas

Al Maidah 51, “..tidak diperkenankan menjadikan orang beragama lain sebagai penolong yang kalian taati..”
Din Syamsudin sebagai mantan Ketua DPP Muhammadiyah harus evaluasi para pengkhutbah berlatar belakang Muhammadiyah yang berulang kali menggunakan ayat itu kemudian menyebut & mengaitkannya dengan Ahok. 
Ahok menjabat struktural pemerintahan negara di tingkat provinsi, bukan pemimpin organisasi agama. Segala pernyataan & perbuatannya di dalam konteks jabatannya sebagai Gubernur, adalah soal profesional. Pernyataan & perbuatan Ahok dalam konteks agama, adalah soal dia, Tuhan, & keluarganya. Warga Jakarta yang berbeda agama dengan Ahok tahu bahwa mereka tak perlu mengikuti apapun tentang agamanya Ahok.
Apakah orang Islam di Bali bisa memilih pemimpin beragama lain di sana? Apakah ada di Papua..? Apakah Al Maidah 51 didengungkan berkali-kali di atas mimbar masjid di Papua, di Bali, untuk menghalau calon pemimpin beragama bukan Islam..? 
Mayoritas boleh jadi superior dalam

banyak kesempatan, tapi di era yang semodern ini anda tak bisa berniat mengakali orang dengan ayat. 
Terlalu jika kita menggunakan firman Tuhan untuk menghalau sebuah tata pemerintahan yang lebih baik. Lagipula kita tak hendak menyatakan tata pemerintahan negara ini pernah sangat buruk karena pemimpinnya beragama tertentu. 

@ifanidea

http://refanidea.com

%d bloggers like this: